Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia menyebut Defisit transaksi berjalan (CAD) pada tahun ini akan mulai membaik pada triwulan IV mendatang.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, mengatakan CAD pada triwulan III masih besar di atas 3 persen karena pada Juli dan Agustus memang masih terjadi defisit khususnya pada neraca perdagangan sementara Surplus baru terjadi pada September.
Langkah-langkah pemerintah dan BI untuk bersama menurunkan CAD menurut dia baru terasa pada September. Meski begitu, Perry memastikan CAD di triwulan III tidak akan lebih dari 3,5 persen.
Defisit terbesar menurut Perry berasal dari migas. Namun, dengan adanya kebijakan B20 dan penyesuaian harga BBM membuat CAD sedikit membaik.
Untuk keseluruhan tahun kebijakan-kebijakan yang telah ditempuh ungkap Perry, baru akan terlihat nyata di Triwulan IV dengan tren CAD yang akan turun jauh.
“Dengan begitu, kami melihat keseluruhan tahun 2018 CAD masih akan di bawah 3 persen dari PDB,” tegas Perry.
Penurunan CAD tersebut lanjut Perry, didorong oleh kebijakan B20, kenaikan harga BBM, kinerja penjualan batu bara, serta kebijakan pengendalian impor. Pada tahun 2019, langkah-langkah yang sudah ditempuh akan semakin memperlihatkan hasil pada stabilisasi fiskal dan moneter sehingga CAD diperkirakan 2,5 persen dari PDB.
“Tidak usah terlalu panik kalau di triwulan III CAD masih melebar di atas 3 persen karena kinerja Juli dan Agustus yang tidak terlalu bagus,” ungkap Perry.
Sementara itu, terkait pertumbuhan ekonomi Perry mengatakan pada tahun ini berada di bawah titik tengah 5,2 persen dari perkiraan kisaran pertumbuhan ekonomi 5-5,4 persen.
“Tapi ini bukan berarti pertumbuhan ekonomi kita jelek,” Perry menekankan.
Pertumbuhan ekonomi di kisaran itu menurut dia, karena menunjukkan proses recovery ekonomi yang tidak secepat harapan. Meski begitu, sejumlah faktor sumber pertumbuhan menurut dia, cukup sehat.
Perry menjelaskan dari sisi pengeluaran konsumsi masih di atas 5 persen begitupun untuk konsumsi rumah tangga.
“Kalau konsumsi di atas 5 persen berarti daya beli cukup bagus antara lain karena tingkat harga yang terkendali,” lanjut dia.
Dari sisi investasi, pada triwulan III menurut dia, masih tumbuh di atas 7 persen sebagaimana pada triwulan I yang tumbuh 7,95 persen setelah melemah pada triwulan II yang tumbuh hanya 5,9 persen.
Kemudian, kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan III menurut Perry, juga bagus dengan indeks 52,02 persen.
Namun, Perry mengakui yang menjadi isu pada pertumbuhan ekonomi bukan masalah konsumsi dan domestic demand, tapi net external demand ekspor dikurangi impor.
“Ekspor karena permintaan global agak sulit diraih kecuali untuk manufacturing ke AS yang masih bagus,” ujar dia.
Begitupun dengan ekspor berbasis komoditas yang menurut dia, juga tidak terlalu bagus. Selain itu, langkah pengendalian impor yang dilakukan pemerintah ungkap Perry, baru terasa September.
“Jadi wajar kalau net external demand belum tunjukkan hasil yang bagus sehingga pertumbuhan ekonomi masih di bawah 5,2 persen,” lanjut Perry.
Dengan adanya perbaikan CAD di triwulan IV nanti, Perry mengatakan akan perbaiki sumber pertumbuhan dari net external demand.
“Kita ingin tumbuh lebih pesat karena domestik dan konsumsi masih kuat,” tekan dia.
news_share_descriptionsubscription_contact

