Muhammad Latief
21 Maret 2018•Update: 22 Maret 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Ekonom senior Faisal Basri pada Rabu, mengingatkan pemerintah untuk tak terlena menambah utang luar negeri karena bisa membawa kondisi yang berbahaya bagi perekonomian nasional.
Menurut dia, saat ini sekitar 40 persen surat berharga negara (SBN) dikuasai oleh investor asing dengan nilai sekitar Rp856 triliun.
“Utang jenis itu aman kalau tidak ada gejolak, tapi sekarang kondisi dunia sedang begini (tidak stabil). Amerika bersin saja kita terpengaruh,” ujar dia saat konferensi pers “Menggugat Produktivitas Utang Luar Negeri,” di Jakarta, Rabu.
Menurut Faisal, tren peningkatan kepemilikan investor asing dalam SBN ini juga memicu volatilitas nilai tukar rupiah. Saat perekonomian global mengalami tekanan, potensi arus modal keluar meningkat dan membuat rupiah semakin berfluktuasi.
Menurut dia, mengutip data dari Bank Indonesia (BI), hingga 2017, komposisi utang negara terdiri dari non-sekuritas 32,6 persen, sedangkan sekuritas mencapai 67 persen. Komposisi ini berbeda dengan 2010, saat itu komposisi utang sekuritis hanya 36,3 persen sedangkan non sekuritas mencapai 63,7 persen.
Faisal yang juga ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) ini mengatakan utang SBN ini mempunyai beberapa kelemahan. Antara lain suku bunganya tinggi dan jangka waktunya lebih pendek.
Namun, keunggulannya adalah adanya kebebasan pemerintah untuk menggunakan sesuai kebutuhan dan ada stabilitas makroekonomi.
Menurut Faisal, utang ini berbeda dengan utang luar negeri, yang berbunga rendah dan jangka waktunya lebih panjang. Namun cenderung mengikat dan dikaitkan dengan proyek serta menambah instabilitas.
“Indonesia banyak utang dengan bunga tinggi, ini karena kepepet. Penerimaan pajak tidak tinggi,” ujar dia.
Jadi menurut Faisal, kondisi utang luar negeri sekarang tidak jauh berbeda dengan kondisi orde baru. Saat orde baru, Indonesia menyerahkan diri ke lembaga-lembaga donor dan sekarang, menyerahkan nasibnya pada pasar.
“Sama saja dijajahnya. Sekarang yang menjajah pasar dan pasar itu gonjang-ganjingnya tinggi,” ujar dia.
Peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus mengatakan, utang yang diperoleh dari berbagai sumber, termasuk SBN harus digunakan untuk hal-hal yang produktif seperti infrastruktur yang mampu memicu multiplayer effect dan meningkatkan nilai tambah.
‘Selain itu juga untuk sektor-sektor tradeable seperti pertanian dan industri yang menyerap banyak tenaga kerja,” ujar dia.
Pertumbuhan utang yang signifikan itu, menurut Ahmad seharusnya menimbulkan optimisme di dunia usaha untuk berinvestasi dan memperluas usahanya di Indonesia. Namun faktanya, para pengusaha wait and see dan tampak tidak yakin atas perekonomian Indonesia di masa datang.