İqbal Musyaffa
12 Juli 2018•Update: 13 Juli 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
PT Freeport Indonesia (PTFI) telah mendapatkan perpanjangan izin operasi hingga 2041 melalui perjanjian kerja sama dengan PT Inalum yang mengusai 51 persen saham perusahaan tambang tersebut.
Dalam perjanjian tersebut, Inalum akan mengeluarkan dana sebesar USD3,85 miliar untuk membeli hak partisipasi Rio Tinto di PTFI dan 100 persen saham FCX di PT Indocopper Investama yang memiliki 9,36 persen saham di PTFI.
Pemerintah Indonesia dan PT Freeport McMoran (FCX) telah menyepakati pokok-pokok perjanjian (Head of Agreement/HoA) terkait penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Jakarta, Kamis.
Melalui perjanjian kerja sama yang baru tersebut, maka dividen yang akan diperoleh oleh Inalum dapat mencapai lebih dari USD60 miliar.
Presiden dan CEO Freeport McMoran Inc Richard Adkerson mengatakan pihaknya akan menjadi pemegang saham di PT Freeport Indonesia bersama dengan PT Inalum dengan kepemilikan saham bagi pemerintah Indonesia melalui Inalum sebesar 51 persen.
“Kita sepakat untuk melanjutkan program jangka panjang yang telah dijanjikan PT Freeport Indonesia dan meyakini bahwa kesepakatan ini akan memberikan manfaat bagi semua pihak,” ujar Adkerson.
Menurut dia, PTFI meyakini dengan perpanjangan izin operasi hingga 2041, yang mekanismenya masih akan dirinci, akan menguatkan kemitraan yang telah terjalin antara pemerintah Indonesia dan Freeport McMoran Inc selaku pemegang saham di PTFI.
Perpanjangan izin operasi tersebut menurut Adkerson akan memberikan jaminan bagi investasi bernilai miliaran dolar dan kepastian bagi seluruh pemegang saham PTFI, karyawan, masyarakat Papua, pemasok, kontraktor, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Freeport McMoran tetap berkomitmen untuk kesuksesan PTFI. Kami bangga dengan apa yang telah kami capai dalam lebih dari 50 tahun sejarah kami dan menantikan masa depan selanjutnya,” ungkap dia.
Perpanjangan operasi ini, menurut dia, akan meningkatkan manfaat secara signifikan bagi pemerintah Indonesia baik untuk pemerintah pusat ataupun daerah.
Berdasarkan laporan keuangan tahun 2017, PTFI membukukan pendapatan sebesar USD4,44 miliar naik dari USD3,29 miliar di tahun 2016. Perusahaan ini juga membukukan laba bersih sebesar USD1,28 miliar naik dari USD579 juta.
PTFI memiliki cadangan terbukti (proven) dan cadangan terkira (probable) untuk tembaga sebesar 38,8 miliar pound, emas 33,9 juta troy ounce, dan perak 153,1 juta troy ounce.
Sementara Inalum pada 2017 membukukan pendapatan sebesar USD3,5 miliar dengan laba bersih konsolidasi mencapai USD508 juta.
Holding pertambangan ini juga tercatat memiliki sumber daya dan cadangan nikel sebanyak 739 juta ton, bauksit 613 juta ton, timah 1,1 juta ton, batubara 11,5 miliar ton, emas 1,6 juta troy ounce, dan perak 16,2 juta troy ounce.