Muhammad Nazarudin Latief
07 Februari 2018•Update: 07 Februari 2018
Muhammad latief
JAKARTA
Indonesia membuka peluang perdagangan dengan sistem barter untuk komoditas yang dibutuhkan, terutama dengan negara-negara yang bermasalah dengan devisanya.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sesusai meluncurkan Sistem Transaksi Tunggal Sitem Perdagangan Alternatif (SPTT-SPA), Rabu mengatakan pihaknya akan melibatkan stakeholder untuk mendukung transaksasi perdagangan seperti ini.
Menteri Enggar yakin, insting pengusaha yang cukup tajam membuat sistem ini diminati karena menjanjikan keuntungan.
“Kalau kita butuh minyak atau gas atau apapun kita barter saja. Dibayarnya pakai komoditas, terutama dengan negara baru yang kesulitas devisa,” ujar Menteri Enggar.
Menurut Menteri Enggar, sistem barter bisa menjadi salah satu pendorong pencapaian target peningkatan impor 11 persen tahun ini.
Indonesia berpengalaman melakukan imbal dagang seperti ini dalam pengadaan pesawat tempur Sukhoi SU-35 senilai US$ 1,14 miliar.
Cara lain untuk meningkatkan nilai ekspor kata Menteri Enggar, adalah menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan negara atau kawasan lain.
Namun, cara ini baru akan terasa efeknya paling tidak pada 2019, karena setelah perjanjian perdagangan ditandatangani, pemerintah harus menunggu ratifikasi untuk menjadi undang-undang terlebih dahulu.
Buka ITCP di Karachi dan Bangladesh
Pemerintah juga berencanakan mengefektifkan Indonesia Trade Promotion Centre (ITCP) di daerah yang menguntungkan.
Misalnya menutup ITCP di Lyon dan Copenhagen dan merelokasinya ke Hanoi dan Shanghai.
Menteri Enggar juga mengusulkan agar membuka ITCP di Karachi dan Bangladesh.
Institusi ini, menurut Menteri Enggar adalah ujung tombak perdagangan luar negeri Indonesia, bukan saja agen pemerintah tapi juga agen bisnis serta marketing intelligent.
“Para pengusaha silakan berhubungan dengan mereka. Sehingga ketika berhubungan dengan potensial improtir dari sana mereka tau bisnis prosesnya,” ujar Menteri Enggar.
Target Perdagangan Realistis
Sementara itu kementerian perdagangan masih menganggap target peningkatan ekspor 11 persen masih realistis.
Tahun lalu, kinerja ekspor Indonesia Januari–Desember 2017 mencapai USD168,73 miliar atau meningkat 16,22 persen dibanding periode yang sama 2016.
“Kalau mau enak saja, target kenaikan ekspor antara 5-7 persen. Tapi, tidak mungkin kita hanya business as usual kalo mau capai pertumbuah ekon yang lebih tinggi,” ujar dia.