Muhammad Nazarudin Latief
20 November 2017•Update: 20 November 2017
Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Kordinator Collaborative Research Centre (CRC) 990, Aiyen Tjoa, pada Senin, mengatakan perkebunan kelapa sawit tidak hanya menjadi sumber emisi (CO2), namun pada waktu tertentu menjadi penyerap karbon.
“Emisi itu tergantung umur sawit, semakin tua sifatnya akan menjadi penyerap karbon,” ujar Aiyen dalam acara Palm Oil Course, di Jakarta.
Dalam risetnya, perkebunan sawit menjadi penyebab dan sumber emisi jika masih berumur 2 tahun. Namun, jika seiring bertambahkan umur, maka akan berubah menjadi sumber penyerapan karbon.
Riset Aiyen merupakan kolaborasi antara Institut Pertanian Bogor, Universitas Tadulako dan Gottinghen University, Jerman dan dibiayai oleh Pemerintah Jerman. Mereka melakukan riset di Jambi, selama hampir lima tahun dari 2012.
Dengan perbandingan umur sawit yang mencapai 30 tahun, maka umurnya lebih banyak digunakan sebagai penyerap karbon. Selain itu, sawit juga terbukti tidak lebih banyak mengonsumsi air dibandingkan tanaman lain.
Risetnya juga mengonfirmasi bahwa kelapa sawit meningkatkan kesejahteraan dan perbaikan nutrisi warga. Kondisi ekonomi desa dan warga sekitar lahan juga meningkat, bisa dilihat dari banyaknya jumlah anak sekolah.
Tapi menurut memang ada beberapa hal negatif yang ditimbulkan industri kepala sawit, misalnya terjadi lost of carbon, karena ada alih fungsi dari hutan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Tapi hal ini bukan hanya pada perkebunan kelapa sawit namun pada setiap pembukaan hutan.
Selain itu, juga terjadi pemadatan lahan, sehingga penyerapan air terganggu. Namun, hal itu juga terjadi pada semua produk pertanian.
Secara umum, kata Aiyen, deforestrasi tidak disebabkan oleh adanya alih fungsi di lahan hutan, namun muncul karena buruknya penegakan hukum, kurangnya akses dan kejelasan kepemilikan lahan dan terbatasanya lahan di Jawa yang menyebabkan transmigrasi.