Muhammad Nazarudin Latief
15 Februari 2021•Update: 15 Februari 2021
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan necara perdagangan Indonesia pada Januari surplus sebesar USD1,96 miliar.
Surplus berasal dari selisih ekspor sebesar USD15,30 miliar dan impor sebesar USD13,34 miliar,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, dalam konferensi pers virtual, Senin.
Aktivitas perdagangan baik ekspor maupun impor mengalami penurunan pada Januari.
Impor turun 7,59 persen dibanding bulan sebelumnya dan berkontraksi 6,49 dibanding tahun lalu.
Nilai impor turun pada semua jenis produk, barang konsumsi turun 17 persen, barang baku/penolong turun 2,62 persen dan barang modal berkontraksi 21,23 persen.
“Hal ini mengindikasikan pergerakan impor masih belum sesuai harapan,” ujar dia.
Sedangkan ekspor turun 7,48 persen dibanding bulan sebelumnya, tapi naik 12,24 persen dibanding Januari tahun lalu.
Ekspor nonmigas Januari 2021 sebesar USD14,42 miliar, turun 7,11 persen dibanding Desember 2020. Dibanding Januari tahun lalu, naik 12,49 persen
Penurunan terbesar ekspor nonmigas Januari 2021 terhadap Desember 2020 terjadi pada bijih, terak, dan abu logam sebesar USD257,5 juta atau 44,39 persen.
“Penurunan biasa terjadi pada Desember ke Januari. Karena pada Desember banyak sekali kegiatan sedangkan Januari baru mulai,” ujar dia.
Perdagangan Indonesia surplus dengan beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS) sebesar USD1,09 miliar, India sebesar USD 563,2 juta, dan Filipina surplus USD504,3 juta.
Sedangkan neraca perdagangan yang masih defisit adalah China sebesar USD1,09 miliar, Australia sebesar USD243,6 juta, dan dengan Korea Selatan USD192,3 juta.