07 Agustus 2017•Update: 07 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Daya beli masyarakat Indonesia masih kuat, demikian dikatakan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto, Senin. Saat ekonomi pada kuartal II/2017 tumbuh 5,01 persen, sektor konsumsi rumah tangga juga tumbuh sebesar 4,95 persen. Meski, angka ini turun dari kuartal sama tahun lalu, yang tumbuh sebesar 5,07 persen.
“Untuk pengeluaran food, bisa dilihat di makanan minuman selain restoran [tumbuh 5,24%], sementara restoran dan hotel tumbuh lebih tinggi lagi [dari 5,48% ke 5,87%],”ujarnya.
Untuk konsumsi non-food, kata Kecuk, sedikit terkoreksi dari 4,87 persen menjadi 4,59 persen. “Sektor rumah tangga Indonesia itu bergerak dari lapisan bawah sampai atas. Sehingga harus diperhatikan untuk masyarakat bawah. Bisa jadi nominalnya naik, tapi riilnya turun,” sebut dia.
Sementara untuk perilaku kelas menengah ke atas ada sedikit perbedaan, meski masih ada transaksi debit yang cukup tinggi. Ada indikasi, kata Kecuk, masyarakat menabung lebih banyak dari periode sebelumnya.
“Di kelas ini, daya beli bukan turun. Tapi ada indikasi menahan belanja,” ujarnya.
Ini, kata Kecuk, adalah pengaruh faktor psikologis melihat kondisi perekonomian Indonesia saat ini dan memperhatikan kecenderungan global.
Kecuk juga menjelaskan tentang fenomena perdagangan e-commerce yang diduga menjadi pengalihan pembelian masyarakat. Menurutnya, perdagangan online hanya perubahan model transaksi pembayaran, barang yang dijual tetap.
“Jika dulu jual langsung ke shopping mall, sekarang pindah ke e-commerce, harus diakui ada pergeseran, tapi itu terjadi pada kelas menengah ke atas,” ujarnya. “Ada pergeseran ke belanja online tapi angkanya masih kecil”.