Muhammad Nazarudin Latief
29 November 2017•Update: 30 November 2017
JAKARTA
Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mencatat lahan-lahan kelapa sawit yang sudah bersertifikat makin bertambah.
Laporan terakhir, total luas perkebunan bersertifikat RSPO mencapai 3,2 juta hektar pada 16 negara, naik 14 persen dari tahun lalu.
Demikian diungkapkan Chief Executive Officer (CEO) RSPO, Datuk Darrel Webber, Rabu di Bali seusai membuka konferensi RSPO ke 15 atau yang dikenal dengan sebutan RT15 yang berlangsung hingga Kamis mendatang.
Webber yang berbicara dengan wartawan di Jakarta melalui video conference ini mengatakan dalam impact report (laporan dampak), tercatat meningkatnya kawasan bernilai tinggi (high conservation values/HCV) menjadi seluas 189.777 hektare, atau setara 250.000 lapangan sepakbola, atau naik 21 persen dari laporan tahun lalu.
Wilayah HCV ini tersebar pada beberapa region, termasuk Afrika yang naik 13.405 hektare dan Asia Pasifik, seperti Malaysia yang mencatat peningkatan 8.399 hektare dan kawasan lain seluas 5.864 hektare.
“Ada banyak kemajuan signifikan dalam setahun terakhir,” ujar Webber.
RSPO adalah asosiasi stakeholder kelapa sawit seperti produsen kelapa sawit, pengolah atau pedagang minyak kelapa sawit, produsen barang konsumen, pengecer, bank dan Investor, serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Lembaga ini mengembangkan dan menerapkan standar global untuk minyak kelapa sawit berkelanjutan.
Menurut Webber, keanggotaan RSPO juga mengalami peningkatan di seluruh dunia. Tiongkok dan Amerika Utara mencatat kenaikan masing-masing 30% dan 62%.
Konferensi kali ini mengambil tema “inklusifitas dan akuntabilitas”, berusaha mendorong transparansi dan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan yang jumlahnya terus bertambah.