İqbal Musyaffa
03 April 2018•Update: 04 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo Selasa, menegaskan bahwa nilai tukar rupiah masih terjaga sesuai nilai fundamentalnya.
“Kita sama-sama ikuti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS per 29 Maret year to date terdepresiasi sebesar 1,45 persen masih lebih kecil bila dibandingkan Filipina, India, dan Turki,” jelas Agus seusai pengesahan Perry Warjiyo sebagai calon Gubernur BI di DPR, Jakarta.
Kondisi pasar saat ini menurut dia sudah jauh lebih stabil dan sesuai perkiraan BI seusai bank sentral AS the Fed menaikkan suku bunga keenam kalinya sejak 2015 pada awal Maret lalu.
Meskipun perekonomian global saat ini masih dibayangi oleh kekhawatiran perang dagang AS dan Tiongkok, namun menurut dia tidak akan terlalu berdampak besar pada perekonomian global karena para pejabat AS dan Tiongkok optimistis akan ada solusi terkait masalah tersebut.
Agus juga menegaskan bahwa selama ini BI sudah berperan sesuai mandatnya untuk menjaga inflasi dan nilai tukar.
Dalam tiga tahun terakhir, nilai tukar rupiah menurut dia selalu dalam kondisi yang sesuai dengan fundamental ekonomi. Pada 2016 nilai tukar rupiah terapresiasi 2,3 persen dan pada 2017 hanya terdepresiasi 0,71 persen.
Kemudian, terkait peran BI dalam menjaga inflasi menurut dia juga berjalan dengan baik selama ini. Dalam tiga tahun terakhir inflasi selalu berada dalam kisaran target.
“Inflasi Maret 0,2 persen sama dengan apa yang kita prediksi. Secara year on year inflasi 3,4 persen sejalan dengan target yang kita canangkan di 2018 dan 2019 sebesar 3,5 persen,” lanjut dia.
Hampir semua kantor perwakilan BI di daerah menurut dia selalu melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah dan stakeholder untuk membahas inflasi dan memastikan pertumbuhan ekonomi di daerah berjalan dengan baik.