Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menilai meskipun neraca perdagangan Indonesia pada Februari kembali mengalami defisit, namun itu masih sejalan dengan perbaikan ekonomi Indonesia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, defisit dagang membaik dari USD0,76 miliar pada Januari menjadi USD0,12 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman pada Kamis malam mengatakan BI memandang perkembangan neraca perdagangan pada Februari 2018 tetap positif dalam mendukung kinerja perekonomian.
“Defisit pada neraca perdagangan tidak terlepas dari peningkatan kegiatan produksi dan investasi, sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik,” jelas Agusman.
Dia mengatakan, neraca perdagangan Indonesia pada bulan-bulan selanjutnya diperkirakan terus membaik seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia dan harga komoditas global yang tetap tinggi.
“Perkembangan tersebut akan mendukung perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja transaksi berjalan,” lanjut dia.
Dia juga mengatakan, perbaikan kinerja perdagangan pada Februari didorong oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat dan defisit neraca perdagangan migas yang menurun.
Surplus neraca perdagangan nonmigas pada Februari 2018 berdasarkan laporan BPS mencapai USD0,75 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang tercatat USD0,18 miliar.
Peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas sebesar USD1,10 miliar (month to month) melampaui penurunan ekspor nonmigas sebesar USD0,52 miliar (month to month).
Secara kumulatif Januari-Februari 2018, neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus USD0,93 miliar, lebih rendah dari kumulatif surplus periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD4,5 miliar.
Penurunan kumulatif surplus tersebut menurut dia terutama didorong peningkatan impor nonmigas yang lebih besar dari peningkatan ekspor nonmigas.
Peningkatan impor nonmigas pada periode Januari-Februari ujar Agusman, disumbang oleh kenaikan impor bahan baku seperti bahan bakar mineral, plastik dan barang dari plastik, impor barang modal termasuk mesin dan pesawat mekanik, serta mesin dan peralatan listrik.
Sementara itu, peningkatan ekspor nonmigas terutama disumbang oleh kenaikan ekspor bahan bakar mineral, bijih, kerak, abu logam, serta besi dan baja.
“Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas menurun seiring meningkatnya ekspor di tengah stabilnya impor,” lanjut dia.
Defisit neraca perdagangan migas menurun dari USD0,94 miliar pada Januari 2018 menjadi USD0,87 miliar pada Februari 2018.
“Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh ekspor migas yang naik USD0,07 miliar (month to month), terutama berupa ekspor minyak mentah,” imbuh Agusman.
Sementara itu, impor migas tercatat stabil sekitar USD2,26 miliar. Secara kumulatif, neraca perdagangan migas mengalami defisit USD1,8 miliar, relatif sama dengan kumulatif defisit periode yang sama tahun 2017.
Dengan perkembangan tersebut, Agusman mengacu pada data dari BPS, maka secara kumulatif Januari-Februari 2018, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit 0,87 miliar dolar AS.
news_share_descriptionsubscription_contact

