15 Agustus 2017•Update: 16 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Neraca perdangan Indonesia-Turki kian hari kian menggembirakan. Meskipun jumlahnya tidak sebesar pasar-pasar tradional produk Indonesia, namun perkembangan ini sangat menjanjikan, demikian diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, Selasa.
“Januari-Juli 2016-Januari-Juli 2017 itu naik dari USD 44,6 juta ke 88,2 juta. Itu kumulatif 100 persen,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan tiga negara pasar tradional ekspor Indonesia masih terlalu kecil. Misalnya Tiongkok, yang mencapai USD 10,73 miliar, angka ini masih terlalu kecil. Jepang juga masih menempati posisi tinggi tujuan ekspor dengan nilai USD 8,02 dan Amerika USD 9,76 miliar. “Namun, pergerakan yang mencapai 100 persen membawa makna yang dalam,” ucap dia.
Dari catatan BPS, komoditas yang diekspor ke Turki antara lain karet dan barang dari karet (TNSR 20), tekstil, rajutan, kayu, soda, suku cadang kendaraan bermotor, minyak kelapa sawit dan bahan kimia. “Semuanya barang nonmigas,” terang dia.
Selain Turki, pemerintah juga mengembangkan pasar ke Qatar, Rusia dan Uni Emirat Arab. Untuk Rusia, pada Juli tahun lalu, hanya USD 65,5 juta, namun pada Juli tahun ini mencapai USD 102,1 juta. “Kenaikannya tinggi, persentasenya apalagi. Tapi nominalnya masih kecil“.
Ekspor ke Rusia terdiri dari minyak kelapa sawit, kopi jenis arabika, kopra, lemak dan minyak, teh hitam dan ban kendaraan bermotor. Ekspor ke Qatar antara lain produk keramik, mesin, baja, plastic dan karet.
“Perluasan pasar non tradional ini untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, Jepang dan Amerika,” ujarnya.
Duta besar Turki untuk Indonesia Sander Gurbuz saat berkunjung ke kantor Anadolu Agency Indonesia mengatakan, peningkatan volume perdagangan memang menjadi komitmen kedua negara yang bahkan sudah menyepakati area Free Trade Agreement (FTA) atau perdagangan bebas pada Oktober mendatang. Selain menandatangi FTA, di bulan yang sama Indonesia dan Turki juga akan mengadakan Joint Economy Commission.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito juga mengungkapkan keinginan untuk memasarkan semua produk ke Turki, terutama Crude Palm Oil (CPO), komoditas andalan Indonesia yang kini harganya sedang naik di pasar dunia.
Tidak ada tidak ada hambatan berarti dalam menginisiasi perdagangan ini. Selain Turki, Indonesia juga ingin mengembangkan pasar tradisionalnya ke wilayah Afrika.
Produk olahan Kelapa sawit Indonesia di Turki masih kalah popular dengan produk serupa asal Malaysia. Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-23 dan mitra investasi ke-43 bagi Indonesia dengan nilai investasi sebesar USD 2,7 juta (2016).