İqbal Musyaffa
08 Juni 2018•Update: 11 Juni 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam diskusi media di Jakarta, Jumat, mengatakan dalam upaya mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), perlu dilakukan reformasi struktural yang terfokus ke sektor tertentu.
“Tapi dampaknya baru akan terasa pada jangka menengah untuk mengubah defisit jadi balance atau bahkan surplus,” ujar Perry.
Salah satu sektor yang menurut dia dapat difokuskan adalah sektor pariwisata karena memiliki potensi yang bagus. Perry mengaku sudah berkoordinasi dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya.
“Mulai bulan Juni nanti peserta annual meeting IMF World Bank sudah bisa mulai mendaftarkan paket wisata yang bisa diambil oleh mereka. Paketnya sudah disiapkan,” imbuh Perry.
Dengan maraknya peserta pertemuan tahunan tersebut untuk berwisata, menurut Perry akan mendorong peningkatan devisa untuk bisa mengurangi defisit transaksi berjalan.
Beberapa destinasi wisata yang diminati para peserta annual meeting menurut Perry antara lain Bali, Jogjakarta, Pulau Komodo, Danau Toba, dan Banyuwangi.
Kebijakan struktural yang menurut dia perlu dilakukan adalah dengan mengembangkan UMKM, kemudahan visa, imigrasi, layanan bandara, serta infrastruktur pariwisata seperti resort dan properti.
Kebijakan struktural lain yang bisa dilakukan menurut dia adalah dengan mengembangkan ekspor nonmigas serta mendorong kapasitas produksi beberapa sektor industri seperti otomotif, elektronik, dan makanan minuman.
“Kalau sektor itu bisa dikerjakan bersama untuk reformasi strukturalnya, maka bisa meningkatkan ekspor,” ungkap dia.
Selanjutnya, industri galangan kapal juga menjadi sektor penting untuk dibenahi karena Indonesia setiap tahunnya harus mengeluarkan sekitar USD12 miliar untuk biaya pengiriman ekspor impor.
“Dengan perbaikan industri perkapalan, ekspor bisa kita dorong. Memang ini semua baru terasa pada jangka menengah,” tekan Perry.