Muhammad Latief
26 September 2017•Update: 26 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan belum mendeteksi adanya sebaran abu vulkanik (volcanic ash) di Bandara Ngurah Rai, Bali, hingga Selasa.
Dengan demikian aktivitas vulkanik Gunung Agung dianggap belum mempengaruhi operasional penerbangan.
“Semua masih normal. Penerbangan domestik, internasional maupun over flying masih normal,” kata , kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Agus Santoso.
Pihaknya sudah menyiapkan rencana “pendukung” guna mengantisipasi jika gunung tersebut erupsi dan berdampak terhadap aktivitas penerbangan.
Ada empat bandara yang bisa digunakan untuk mendarat bagi pesawat-pesawat tujuan Ngurah Rai, yaitu Surabaya di Jawa Timur, Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB), Semarang dan Solo di Jawa Tengah, Yogyakarta, Balikpapan di Kalimantan Timur, dan Makassar di Sulawesi Selatan.
Agus meminta untuk memperhatikan standar prosedur operasional bagi dunia perbangan terkait aktivitas gunung berapi. Pihaknya juga segera menerbitkan notice to airmen jika terjadi perubahan kondisi, baik positif maupun negatif untuk penerbangan.
“Semua harus bersiap untuk menghadapi yang terburuk,” kata Agus.
Jika ada kondisi membahayakan, pihaknya meminta untuk tidak memaksakan penerbangan dan tetap menunggu di darat. Maskapai serta pengelola bandara juga harus mengantisipasi penumpukan penumpang di bandara jika terjadi keterlambatan (delay).
Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengingatkan sebaran abu vulkanik juga dipengaruhi oleh arah angin.
Pada Oktober ini, angin diperkirakan mengarah ke barat daya dan utara. Dengan demikian, abu vulkanik kemungkinan akan menuju Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Sedangkan pada November hingga Januari, arahnya berpindah ke Timur.