Hayati Nupus
09 Agustus 2018•Update: 10 Agustus 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengatakan perbedaan data korban bencana merupakan hal biasa.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pada gempa Lombok kali ini, per Rabu lalu BNPB dan Balai Penanganan Bencana Daerah NTB menyebutkan jumlah korban tewas sebanyak 131 orang, TNI menyebutkan 381 orang, sedang Basarnas dan Pemda NTB menyebutkan 226 orang.
“Kebutuhan kecepatan melaporkan kondisi penanganan bencana saat krisis diperlukan, sehingga menggunakan data sendiri, akhirnya yang terjadi berbagai institusi memiliki data berbeda sehingga membingungkan masyarakat,” ujar Sutopo, Rabu malam, dalam siaran pers.
Sutopo mengatakan perbedaan data juga terjadi saat bencana besar sebelumnya, seperti gempa bumi di Sumatera Barat pada 2009, erupsi Gunung Merapi 2010 dan tsunami Mentawai pada 2010.
Perbedaan data ini, ujar Sutopo, mencerminkan perlunya peningkatan koordinasi data antarainstansi.
Rencananya, ujar Sutopo, Pos Pendamping Nasional (Pospenas) akan mengundang kementerian, lembaga, dan pemda untuk menyamakan data.
“Masing-masing lembaga diminta membawa data lebih detil, yaitu identitas korban meninggal dunia yaitu nama, usia, jender dan alamat,” kata Sutopo.
Sutopo juga mengatakan, sesuai regulasi, data resmi korban bencana yang diakui pemerintah adalah data dari BNPB dan BPBD. Data ini sekaligus akan menjadi data resmi nasional.
Gempa tektonik berkekuatan 7 SR mengguncang Lombok, Minggu malam, pukul 18.46 WIB. Hingga pagi ini terdapat 318 gempa susulan dengan intensitas semakin mengecil.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami dan mengakhirinya pada pukul 20.25 WIB. BMKG juga menyebutkan jika ini merupakan gempa utama dari rangkaian gempa sebelumnya.
Lokasi gempa tak jauh dari pusat gempa sepekan sebelumnya yang berkekuatan 6,4 skala richter dan mengguncang Bali, Lombok, hingga Sumbawa. Gempa pekan lalu itu menewaskan 17 orang, 365 terluka dan membuat ribuan orang mengungsi.