Hader Glang
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Selasa mengumumkan kota Marawi sudah bebas dari cengkraman teroris Maute setelah memerangi mereka selama hampir lima bulan dan menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Deklarasi Duterte itu datang menyusul laporan mengenai tewaskan pemimpin kelompok teroris Abu Sayyaf Isnilon Hapilon, yang disebut-sebut sebagai "emir" Daesh di Asia Tenggara, dan Omarkhayam Maute, salah satu petinggi kelompok Maute. Mereka dikabarkan tewas dalam serangan militer di zona perang utama di Marawi.
"Dengan ini saya mendeklarasikan kota Marawi bebas dari pengaruh teroris. Ini menandai titik awal pemulihan," kata Duterte dalam pidatonya kepala militer yang disiarkan stasiun televisi PTV.
Duterte juga berjanji tidak ada prajurit yang akan tertinggal. "Saya pastikan sekarang, tidak ada yang akan ditinggal, saya menjamin keamanan anda."
Kantor berita GMA News melaporkan wakil komandan Kolonel Romeo Brawner mengatakan masih terdapat upaya pembebasan sandera yang ditahan di Marawi.
Brawner mengatakan dengan adanya deklarasi dari Duterte, pasukan keamanan gabungan akan mulai menyapu sisa bom dan peledak lainnya yang ditinggalkan kelompok Maute di Marawi.
Dia juga menjelaskan Kementerian Kesehatan akan membersihkan Marawi melalui proses sanitasi sebelum upaya pemulihan dimulai.
Duterte menerapkan darurat militer di Mindanao pada 23 Mei, ketika Marawi dikepung oleh teroris yang menyatakan kesetiaan pada Daesh.
Pemerintah memperpanjang darurat militer itu hingga akhir tahun ini.
Pertempuran selama berbulan-bulan di Marawi menghancurkan kota tersebut dan lebih dari 400.000 penduduk melarikan diri dari perang.
Duterte mengarahkan dana USD 390 juta untuk membangun kembali kota Marawi, proyek yang dikatakan akan memakan waktu 2 atau 3 tahun.
news_share_descriptionsubscription_contact

