31 Agustus 2017•Update: 31 Agustus 2017
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Rabu memberikan pasukan militernya kebebasan untuk mengakhiri peperangan di kota Marawi dengan memperbolehkan mereka mengebom masjid. Pertempuran Marawi, yang dimulai pada 23 Mei menyusul serangan dari kelompok-kelompok pro-Daesh seperti Maute dan Abu Sayyaf, sudah mencapai hari ke-100.
"Terakhir kali saya di sini, saya akhirnya mengatakan pilihan di tangan mereka. Karena kita tidak bisa menghadapi kebuntuan ini selama setahun," kata Duterte dalam pidato yang diberikannya pada peringatan 23 tahun Otoritas Pendidikan Teknik dan Pengembangan Keterampilan, seperti yang dikutip dari media ABS-CBN News.
Pasukan pemerintah menyelidiki kemungkinan menyerang masjid yang menjadi benteng pertahanan para teroris bahkan dalam hari-hari pertama perang. Opsi itu awalnya tidak dihitung oleh pihak berwenang termasuk Duterte, karena adanya hukum-hukum internasional yang melarang serangan ke tempat beribadah.
Duterte juga sebelumnya meminta pasukannya menunggu karena keamanan para tahanan perang - diperkirakan sebanyak 30 jiwa - menjadi kepentingan utama.
Presiden Filipina itu mengatakan sulit baginya mencapai keputusan itu.
"Ini akan membawa kebencian lebih lanjut dan bukan kedamaian... Namun ini sudah berjalan terlalu lama," katanya. "Saya angkat tangan karena instansi pemerintahan - polisi, militer, pemerintahan lokal, dan warga semua sudah mengeluh."
Duterte mengatakan dia sudah hilang kesabaran dengan proses negosiasi dengan teroris, tawaran agar mereka menyerah dan melepaskan tahanan tidak ada hasilnya.
Dia juga mengatakan telah mengirim utusan untuk mengajak bicara para militan.
"Saya sudah mengirim seseorang, mari kita lihat apakah dia bisa menyelamatkan kita," katanya.