Muhammad Latief
04 Oktober 2017•Update: 05 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Aktivitas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, belum juga menunjukkan gejala penurunan, demikian dikatakan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Rabu.
Aktivitas kegempaan Gunung Agung, kata Sutopo, masih intensif dan fluktuatif. Gempa vulkanik menunjukkan tidak stabilnya aktivitas gunung api.
Di kawah Gunung Agung juga sudah terbentuk rekahan dan keluar asap putih dengan tekanan lemah.
“Tidak dapat dipastikan kapan akan meletus,” ujarnya.
Aktivitas vulkanik yang tidak stabil ini, membuat pemerintah belum mengubah zona bahaya. Masyarakat tetap diminta menjauhi gunung paling tidak 9 kilometer (km) dari kawah, dan 12 kilometer di sektor utara-timur laut dan tenggara-selatan-barat daya.
Letusan terakhir Gunung Agung terjadi selama satu tahun, yakni dari 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964. Erupsi gunung ini menimbulkan kolom letusan setinggi 20 km dengan material vulkanik berupa aerosol sulfat melapisi atmosfer bumi. Akibatnya, suhu bumi mengalami pendinginan 0,4 derajat Celsius.
Sebelumnya, Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga menyatakan pihaknya sudah bersiap untuk rentang masa pengungsian yang panjang mengingat karakter Gunung Agung yang sulit ditebak.
Gubernur Made meminta aparat pemerintah berkoordinasi dengan baik sehingga pengungsi terurus. Dia juga meminta warga di sekitar titik-titik pengungsian untuk bergotong-royong membantu keperluan para pengungsi seperti peralatan memasak, peralatan makan, bahan makanan, serta kebutuhan lainnya.