Md. Kamruzzaman
COX'S BAZAR, Bangladesh
Idul Fitri tahun ini menjadi sendu bagi Muslim Rohingya yang terpaksa melarikan diri ke kamp-kamp pengungsi di Bangladesh akibat kekerasan.
Abdul Hakim, seorang Muslim Rohingya berusia 26 tahun, mengenang perayaan Idul Fitri bersama keluarga di rumahnya di Maungdaw, negara bagian Arakan di Myanmar sebelum terpaksa melarikan diri ke kamp Kutupalang di Bangladesh.
Saat itu Hakim memiliki rencana untuk menikah setelah Idul Fitri, namun hidupnya berubah setelah tentara Myanmar dan ekstrimis Budha membakar rumah dan membunuh ayah, saudara laki-laki dan keponakannya.
Hakim menjelaskan bagaimana dia berhasil melarikan diri ke Bangladesh, bersama dengan ibu dan saudara iparnya, meski mengalami cedera.
Mereka mendapat perlindungan di kamp-kamp pengungsi yang kondisinya sangat memprihatinkan setelah melakukan perjalanan selama lima hari ke Bangladesh.
Seperti ratusan ribu pengungsi lainnya, Hakim setiap harinya berjuang untuk mendapatkan makanan dan memenuhi kebutuhan dasar lainnya.
"Saya tidak punya waktu untuk memikirkan Idul Fitri," kata Hakim menambahkan bahwa dia telah kehilangan kebahagiaan setelah kehilangan ayah, saudara laki-lakinya dan anggota keluarga lainnya yang tewas akibat kekerasan.
“Bagaimana saya bisa merayakan Idul Fitri di negeri asing ini sementara darah ayah dan kakakku masih sangat jelas teringat?” ujar dia.
Bagi orang-orang seperti Hakim, ini adalah Idul Fitri pertama setelah serangan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar pada 25 Agustus lalu.
Ziaul Haq, pengungsi Rohingya lain yang tinggal di Kamp Leda, mengatakan bahwa militer Myanmar menembak mati saudara laki-lakinya yang berumur 15 tahun, Anisur Rahman.
“Kami senang di sini. Setidaknya kami sekarang aman dari situasi pembunuhan.
“[Tapi] yang kami jalani sekarang bukanlah kehidupan. Kami ingin kembali ke negara kami sendiri. Namun untuk itu kami membutuhkan hak kewarganegaraan dan keamanan di sana.
- Harapan pengungsi-pengungsi muda
“Kami baru akan merayakan Idul Fitri dengan baik setelah mendapatkan keadilan dan kembali ke negara kami," kata Haq.
Humaera Begum (27) juga melewati Idul Fitri dengan penuh kesedihan karena sang suami masih dipenjara di Myanmar.
Begum bahkan tidak tahu apakah suaminya masih hidup.
“Saya tidak merasakan Idul Fitri tanpa suami saya. Saya sedang menantinya. Saya tidak tahu apakah saya akan kembali bertemu suami saya atau tidak,” kata dia.
Meskipun putus asa, pengungsi Rohingya yang lebih muda mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa keadaan mereka saat ini masih lebih baik daripada hidup di bawah bayang-bayang senjata.
Bibi Ayesha (11) dan Samira (12) yang juga tinggal di kamp Leda mengungkapkan bahwa mereka setidaknya dapat hidup tanpa rasa takut akan terbunuh.
“Kami senang karena kami tidak takut di sini. Kami dapat bepergian di seluruh wilayah kamp. Di depan tenda kami tidak ada yang berdiri dengan senapan untuk membunuh kami, ”kata Ayesha.
Sementara itu, Komisioner Distrik Cox's Bazar Md. Kamal Hossain mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mereka telah melakukan persiapan Idul Fitri di kamp-kamp untuk membantu para pengungsi.
“Kami menyiapkan semua masjid di kamp-kamp untuk Muslim Rohingya salat Idul Fitri. Sejumlah LSM membagikan beberapa pakaian dan bahan makanan untuk mereka beberapa hari sebelum Idul Fitri,” kata dia.
Masyarakat juga mengunjungi kamp-kamp dan membagikan makanan dan pakaian pada malam Idul Fitri.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, yang sebagian besarnya anak-anak dan perempuan telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar menerapkan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas di sana, kata Amnesty International.
Sedikitnya 9.400 orang Rohingya tewas di Rakhine sejak 25 Agustus hingga 24 September tahun lalu, menurut Dokter Lintas Batas.
Dalam sebuah laporan yang dirilis baru-baru ini, kelompok kemanusiaan itu mengatakan 71,7 persen dari total kematian atau kematian 6.700 orang Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Jumlah itu termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.
PBB juga mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk terhadap bayi dan anak kecil – pemukulan secara brutal, dan pemusnahan yang dilakukan oleh personel keamanan.
news_share_descriptionsubscription_contact



