Erric Permana
14 Februari 2018•Update: 14 Februari 2018
Erric Permana
JAKARTA
Presiden RI Joko Widodo mengklaim dalam kepemimpinannya saat ini Indonesia banyak berkontribusi terhadap perdamaian dunia.
Salah satunya mengenai nasib masyarakat Palestina.
Ini disampaikan Presiden Joko Widodo saat menyampaikan sambutan pada Pembukaan Kongres ke-30 dan Peringatan Dies Natalis ke-71 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang digelar di Auditorium Universitas Pattimura, Ambon,
"Kita ingat, tahun 2016 menjadi tuan rumah KTT Luar Biasa OKI. Kita juga membuka konsulat kehormatan di Ramallah, Palestina. Kita juga mendorong KTT di Istanbul yang menentang pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel," kata Presiden Joko Widodo pada Rabu 14 Februari 2018.
Selain itu juga, Muslim Rohingya menjadi perhatian Pemerintah Indonesia kata Presiden yang akrab disapa Jokowi ini.
Indonesia kata dia terus memberikan bantuan kemanusiaan dan diplomasi damai.
"Januari 2018 saya berkunjung ke Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan. Saya berkunjung ke Cox's Bazar (lokasi pengungsian) kondisinya memprihatinkan. Saya adalah kepala negara pertama yang mengunjungi Cox's Bazar," sambung dia.
Sementara dalam kunjungannya ke Afghanistan, Presiden Joko Widodo bersikeras untuk tetap hadir di negara yang saat ini sedang didera konflik persaudaraan itu.
Meski terdapat ancaman keamanan saat kunjungan di sana, ia tetap ingin menunjukkan keseriusan dan kepedulian Indonesia untuk mewujudkan perdamaian di Afghanistan.
"Kenapa saya tetap pergi ke Kabul? Karena pentingnya persaudaraan dan persatuan," ujarnya.
Kunjungannya ke negara-negara yang mengalami krisis kemanusiaan, semakin menyadarkan kita kata Jokowi bahwa persaudaraan dan persatuan merupakan hal yang tidak ternilai.
Sekali lagi Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, bahwa sebagai negara besar yang beragam, Indonesia tetap harus menjaga persatuannya.
"Betapa mundurnya jauh sekali gara-gara konflik perang (di Afghanistan). Oleh sebab itu, titipan Presiden Ashraf Ghani saya ingat betul. Jangan sampai ada konflik antarsuku, antaragama, dan antarkampung," tutur dia.