Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia bisa mengambil keuntungan dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China sebagai negara alternatif dengan menggenjot ekspor ke kedua negara tersebut, ujar seorang eksekutif pada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Selasa.
Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kadin Handito Joewono mengatakan Indonesia bisa menjadi negara yang menyediakan produk China yang tidak bisa masuk pasar AS, dan sebaliknya produk AS yang terhambat masuk ke China.
Ini bukan hal mudah, terutama karena Indonesia harus bersaing dengan Vietnam, Malaysia dan Thailand yang posisinya lebih tinggi sebagai eksportir ke Amerika, kata Handito.
“Negara-negara itu juga mengincar posisi yang sama dengan kita, jadi ini bukan hal yang mudah,” ujar Handito saat berbicara dalam workshop “Perang dagang AS-RRT, peluang dan antisipasi” di Jakarta.
Peluang ini bisa diambil dengan menambah jumlah eksportir, melakukan diversifikasi barang ekspor, menggunakan instrumen harga dan mengembangkan ekosistem ekspor yang mendukung.
Masih banyak pengusaha dalam skala besar yang belum mengembangkan pemasaran hingga ekspor. Selain itu, pengusaha yang baru saja memulai usahanya juga harus didorong untuk berani langsung melakukan ekspor, kata Handito.
Karena itu, market place seperti Alibaba dan Lazada serta platform lain harus didorong untuk lebih banyak menampung produk dari Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia agar produknya lebih mendunia.
Sedangkan diversifikasi produk ekspor bisa dilakukan dengan mengembangkan kawasan perdagangan bebas seperti Batam yang bisa menampung barang dari China maupun Amerika untuk diekspor kembali.
“Pasarkan saja barang-barang dari negara yang sedang perang dagang. Kita juga bisa mengambil peran sebagai negara trader,” ujar dia.
Harga juga bisa dinaikkan karena jumlah barang yang diperdagangkan menjadi lebih sedikit akibat perang dagang.
Indonesia, menurut Handito, sudah memilih menjadi negara berbasis industri dengan orientasi ekspor. Dalam jangka waktu 10-15 tahun mendatang, dengan komitmen berbagai pihak, ekspor Indonesia bisa meningkat dari USD150 miliar pada 2016 menjadi setidaknya USD750 miliar pada 2025-2030.
“Tapi harus ada langkah-langkah strategis dan terobosan,” ujar dia. “Untuk kepentingan dalam negeri kita juga harus mengencangkan ikat pinggang. Artinya belanja hanya yang perlu dan membangun kecintaan produk Indonesia.”
- Perang dagang hanya sementara
Wakil Direktur Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Kiki Verico mengatakan saat ini Amerika dan China yang menguasai hampir separuh Product Domestic Bruto (PDB) dunia sedang menutup diri.
“Namun ini hanya sementara, karena natural-nya negara-negara di dunia ini berhubungan,” ujar dia.
Menurut Kiki, perang dagang AS-China ini pada akhirnya akan memberi pukulan balik pada mereka, terutama Amerika. Ini karena, investor yang ada di China sebagian besar juga berasal dari Amerika.
Jika negara berkembang terganggu perekonomiannya gara-gara langkah Amerika, maka pergerakan uang ke Amerika sebagai pusat pasar keuangan dunia, tempat negara berkembang menginvestasikan pendapatannya, juga bisa terhambat.
“Yang rugi Amerika sendiri,” ujar dia.
Pada dasarnya, kata Kiki, tidak ada negara yang lebih hebat dari negara lain, karena tidak ada yang mampu memproduksi semua barang kebutuhannya di dalam negeri. Semua membutuhkan produk dari negara lain dan harus membangun jaringan.
Karena itu penting untuk disadari bahwa ekonomi dunia saat ini yang diwarnai ketegangan dagang sedang berada pada “masa transisi” bukan pada “keseimbangan barunya”, tukas Kiki.
Meski setiap negara berusaha menggenjot ekspor, tetap tidak bisa menghentikan impor, karena sebagian barang ekspor berbahan dasar impor. Karena itu, harus dilakukan berbagai upaya untuk menaikkan ekspor namun dengan impor yang efisien.
Sebagai negara berkembang, penting bagi Indonesia untuk mengembangkan turisme sebagai sumber pendapatan alternatif. Indonesia sendiri sudah membuktikan bahwa sektor ini bisa menggerakkan perekonomian.
Pada 2016, devisa dari sektor pariwisata mencapai USD13,568 miliar -- nomor dua setelah pendapatan dari ekspor Crude Palm Oil (CPO) sebesar USD15,965 miliar.
“Sektor pariwisata ini jadi primadona baru pembangunan nasional. Apalagi jika bisa juga menggerakkan ekspor,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact



