Hayati Nupus
16 Oktober 2018•Update: 16 Oktober 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pemerintah mengklaim bidang pertahanan mengalami capaian signifikan di bawah kepemimpinan Joko Widodo -Jusuf Kalla.
Deputi V Kepala Staf Kepresidenan, Jaleswari Pramodhawardani, mengatakan capaian itu tampak pada meningkatnya anggaran pertahanan dari Rp86,37 triliun pada 2014 menjadi Rp114,94 triliun pada 2017.
“Ini anggaran pertahanan paling besar sepanjang sejarah dalam APBN,” ujar Jaleswari, Selasa, di Jakarta.
Capaian lainnya, lanjut Jaleswari, adalah target pemerintah untuk kemandirian pertahanan dan membesarkan industri pertahanan dalam negeri seperti PT PAL, PT Pindad serta PT Dirgantara Indonesia.
Kebijakan itu tampak dengan adanya kerja sama industri pertahanan, misalnya joint-venture pembuatan prototipe medium tank antara Pindad dengan FNSS Turki, juga kerja sama pembuatan kapal selam U-209 dengan DSME Korea Selatan.
Misalnya Dirgantara Indonesia saat ini sudah dapat memproduksi sejumlah alutsista, di antaranya pesawat CN235-220, Helicopter Mbe Panther AKS dan Helicopter Serang AS555AP.
Pemerintah menggunakan alutsista produksi anak bangsa itu untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri.
Meski begitu, ujar Jaleswari, untuk memenuhi kebutuhan alutsista yang tidak diproduksi di dalam negeri, pemerintah tetap membuka peluang untuk mengimpornya dari negara lain. Seperti Sukhoi SU-35, Tank MBT Leopard 3, Kapal Latih Bima Suci dan Helikopter Apache.
Dia menambahkan pada 2018 pemerintah telah membangun 214.441 unit rumah prajurit. Angka ini telah mencapai 46,7 persen dari seluruh kebutuhan.