Pizaro Gozali İdrus
03 Januari 2018•Update: 03 Januari 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Pemerintah Indonesia melakukan kerja sama pendidikan Islam di Mindanao, Filipina Selatan, Rabu.
Penandatangan kerja sama ini dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi di Madrasah Al Munawwara, Davao.
“Madrasah ini merupakan sekolah Islam pertama yang terakreditasi sejak tahun 1996, saat penandatanganan Final Peace Agreement antara kelompok MNLF dan Pemerintah Filipina yang difasilitasi Indonesia,” ujar Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dalam rilisnya, Rabu.
Menurut Kemlu, kerja sama ini merupakan tindak lanjut pembicaraan Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte di sela-sela KTT ASEAN di Manila, November 2017.
“Indonesia dan Filipina menyapakati pentingnya mengembangkan pendidikan Islam yang menyebarkan ajaran rahmatan lil-alamain,” terang Kemlu.
Kerja sama ini akan meliputi pengembangan kurikulum, lokakarya pendidikan dan penelitian, pertukaran guru, ulama, dan peserta didik.
Indonesia juga memberikan 100 beasiswa per tahun untuk siswa Mindanao yang mencakup biaya transportasi, pendidikan, dan biaya hidup selama di belajar di Indonesia.
Penyerahan paspor
Selain kerja sama pendidikan, Menteri Retno secara simbolik menyerahkan 300 paspor Indonesia kepada warga keturunan Indonesia.
WNI keturunan tersebut sudah menetap bertahun-tahun di Filipina, tapi tidak memiliki ketetapan status kewarganegaraan.
KJRI Davao City bekerja sama dengan Pemerintah Filipina dan UNHCR berhasil mendata 8.745 warga keturunan Indonesia di delapan provinsi di Filipina Selatan.
Dari jumlah tersebut, 2.425 orang sudah diberikan Surat Penegasan Kewarganegaraan Indonesia (SPKI).
“Pendataan dan penegasan status bukan merupakan proses yang mudah. Alhamdullillah, dengan upaya keras akhirnya hal ini dapat kita lakukan” kata Menteri Retno.