Hayati Nupus
31 Agustus 2017•Update: 01 September 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Karimullah Mohammad, 37 tahun, menitikkan air mata saat video pembakaran itu ia putar dari ponselnya. Asap membumbung ke angkasa, orang-orang menjerit ketakutan, sederet rumah warga Rohingya dibakar di Mingdao, Arakan, Myanmar.
“Lihat, ini situasi kami. Mereka akan menghabisi kami jika kita tidak berbuat apa-apa,” ujar suara dalam video itu.
Pembakaran itu terjadi pada Jumat lalu, ujar Karim. Karim yang kini mengungsi di Jakarta sejak 6 tahun lalu memperoleh video itu semalam, dari teman sesama pengungsi Rohingya di Medan.
Beberapa saat sebelumnya, panggilan telepon datang dari sepupu Karim, Aisyah Hismatullah, 27 tahun. Dengan penuh ketakutan, Aisyah mengatakan ingin keluar dari Mingdao namun tak bisa. Militer ada di mana-mana dan siap membunuh setiap warga Rohingya yang ditemui.
Sejak Jumat, 28 Agustus lalu, militer Myanmar memulai operasi pembunuhan muslim Rohingya di Arakan, Myanmar. Sekitar 100an jiwa melayang, sebagian dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Korban luka mencapai 1.000 orang. Sekitar 20.000 orang mengungsi ke Bangladesh, sementara 60.000 orang lainnya mengungsi ke wilayah pegunungan.
Militer Myanmar memperkosa dan membakar desa etnis Rohingya di wilayah Buthidaung, Maungdaw, dan khususnya Rathedaung. Termasuk lebih dari 700 rumah, masjid, pesantren, sekolah dan pertokoan.
“Ini genosida. Tolong kami,” ujar Karim.
Sebelumnya, muslim Rohingya di Arakan juga menjadi korban pelanggaran sistematis dan derogasi pemerintah Myanmar. Status kewarganegaraan mereka dicabut. Mereka tak lagi memperoleh hak pendidikan, layanan kesehatan dan hak domisili.
Rabu kemarin, Karim membuat surat permohonan yang ditujukan kepada Presiden Indonesia Joko Widodo, Presiden Turki Erdogan dan Presiden Iran Hasan Rouhani agar genosida yang terjadi pada warga Rohingya segera dihentikan.
Surat itu juga menuntut agar PBB segera mengirim pasukan keamanan, bantuan kebutuhan makanan dan perawatan kesehatan, juga kebebasan pers.
“Kalau tidak segera dihentikan, mereka akan membunuh kami sampai habis,” pungkas Karim.