Muhammad Latief
09 Oktober 2017•Update: 09 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) mengubah kode Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) Gunung Ili Lewotolok, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi “yellow” setelah sebelumnya berstatus “unassigned”, Senin.
Kode ini berlaku mulai hari ini, hingga waktu yang belum ditentukan.
“Gempa vulkanik teramati meningkat sejak minggu lalu,” ujar PVMBG dalam siaran persnya.
Dengan status tersebut, pemerintah meminta maskapai penerbangan untuk lebih waspada jika melewati wilayah gunung tersebut.
Peneliti PVMBG Martanto menyebutkan bahwa terlihat asap solfatara keluar dari kawah mencapai ketinggian 500 meter. Sejauh ini belum terlihat adanya abu vulkanik.
Aktivitas seismik gunung ini didominasi oleh gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik permukaan.
“Namun bisa saja [abu vulkanik] teramati jika cuaca lebih cerah,” lanjut pengumuman tersebut.
Status gunung ini sejak Minggu kemarin ditingkatkan dari “normal” menjadi “waspada” setelah PVMBG memperhatikan analisis data visual dan kegempaan.
PVMBG mengimbau agar warga, pendaki, dan wisatawan tidak beraktivitas di sekitar zona perkiraan bahaya dalam radius dua kilometer dari kawah gunung.
Gunung setinggi 1.423 m di atas permukaan laut ini dalam catatan PVMBG memiliki potensi bahaya lontaran batu pijar dan abu lebat, longsoran material lapuk dari puncak gunung, awan panas yang mengarak ke sektor timur dan tenggara, serta gas vulkanik berbahaya.
Selain Gunung Ili Lewotolok di Lembata, saat ini ada 17 gunung api lain di Indonesia yang berstatus Waspada. Sedangkan dua gunung berstatus Awas, yakni Gunung Sinabung dan Gunung Agung
Saat ini sudah ada tiga gunung berapi di Indonesia yang harus diwaspadai oleh para pelaku bisnis pernebangan yaitu Gunung Dukono (oranye), Gunung Sinabung (oranye) dan Gunung Agung (oranye).