Megiza Soeharto Asmail
10 Januari 2018•Update: 11 Januari 2018
Megiza Soeharto Asmail
JAKARTA
Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan status Kejadian Luar Biasa untuk penyakit difteri yang mencapai angka 591 kasus pada akhir November lalu sudah mengalami penurunan drastis.
Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan respons pemerintah yang melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) yakni tindakan imunisasi gratis yang biayanya ditanggung oleh pemerintah, mendapatkan hasil yang baik.
“ORI itu kan sifatnya menyergap. Jadi sekarang kasus difteri di Jakarta, Jawa Barat dan Banten sudah turun sekali. Sekarang juga sudah dimulai lagi penyuntikan di sekolah-sekolah, karena anak-anak sekolah sudah masuk lagi,” kata Menteri Nila di Jakarta, Rabu.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Oscar Primadi menambahkan penyakit difteri dapat dicegah dengan imunisasi, penggunaan masker dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), pemberian antibiotika pada kontak erat kasus, dan pemberian antibiotika dan Anti Difteri Serum (ADS)
Pemerintah memastikan sampai saat ini vaksin tersedia dalam jumlah yang cukup.
Di tempat yang sama, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Mohamad Subuh menegaskan bahwa setiap laporan kasus difteri adalah suspek, bukan positif difteri.
Meski begitu, banyaknya laporan dugaan difteri tetap dijadikan sebagai bentuk kewaspadaan petugas kesehatan dan pemerintah daerah untuk melakukan pencegahan.
“Memang setiap kasus difteri yang dilaporkan merupakan bentuk kewaspadaan untuk berjaga-jaga agar bisa ditindak lanjut,” kata Subuh.
Kemenkes, imbuh dia, selalu melakukan investigasi kasus pasien setiap ada laporan dari rumah sakit ataupun puskesmas.
Investigasi berupa kelengkapan imunisasi difteri sebelum sakit dan pengambilan spesimen dengan usap hidung dan tenggorokan itu dilakukan untuk mengkonfirmasi kasus apakah positif atau negatif difteri.
“Apabila kasus terkonfirmasi positif, penderita akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut dan dilakukan pencarian kasus tambahan dan karier pada orang yang pernah kontak dngan pasien,” jelas Subuh.