26 Juli 2017•Update: 28 Juli 2017
Kubra Chohan
ANKARA
Keputusan Israel untuk memindahkan detektor logam dari Masjid al-Aqsa masih belum cukup, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan, Rabu.
“Israel berusaha untuk merusak karakter Islam Jerusalem dengan kebijakan baru setiap harinya dengan memanfaatkan kelemahan Muslim saat ini,” kata Erdogan dalam sebuah diskusi pendidikan tinggi dalam dunia Islam di kompleks kepresidenan di Ankara.
“Mereka yang mengkritik negara kita kapan saja bila memungkinkan mendadak bungkam soal masalah hak-hak dan hukum Palestina, Jerusalem, atau Islam. Betapa menyedihkannya perpisahan ada dalam agenda Islam, bukannya persatuan, dan konflik bukannya perdamaian,” tambahnya.
Reaksi amarah telah menyebar hingga Tepi Barat sejak pekan lalu setelah Israel menutup al-Aqsa di Jerusalem Timur - situs suci bagi umat Muslim dan Yahudi, yang disebut sebagai Bukit Bait Suci – menyusul baku tembak 14 Juli. Al-Aqsa kembali dibuka setelah 2 hari, dengan pemasangan detektor logam dan kamera pengawas pada gerbang masuknya.
3 Warga Palestina tewas dalam aksi protes melawan kebijakan Israel. 3 Warga Israel juga tewas dalam serangan di permukiman di Tepi Barat.
Israel menolak untuk memindahkan detektor dan mengklaim bahwa tindakan pengamanan tersebut serupa dengan prosedur keamanan yang diberlakukan di tempat-tempat suci lainnya di seluruh dunia.
Setelah mendapat kecaman dan tekanan internasional, kabinet keamanan Israel memutuskan untuk memindahkan detektor logam pada Senin malam. Pernyataan yang dirilis setelah pertemuan kabinet menyebutkan sistem penjagaan baru dengan teknologi canggih “smart-check” akan dipasang.
Jerusalem adalah kota suci bagi Islam, Yahudi, dan Kristen – Masjid al-Aqsa adalah tempat suci ketiga di dunia bagi umat Islam setelah Mekah dan Madinah.