Shenny Fierdha Chumaira
20 Desember 2017•Update: 21 Desember 2017
Shenny Fierdha Chumaira
JAKARTA
Panglima Tentara Nasional Indonesia, TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto berharap pemberian brevet kepada tiga orang petinggi kepolisian dan TNI dapat menguatkan kerja sama antara kedua instansi.
Ketiga petinggi tersebut ialah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono, dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi.
"Tujuannya ialah untuk menunjukkan soliditas antara TNI dan Polri yang kita bina selama ini semakin kuat," kata Hadi di Jakarta, Rabu.
Harapan Hadi ini senada dengan harapan Tito.
"Semoga TNI dan Polri dapat semakin kompak sebagai dua pilar utama yang menjaga keutuhan negeri," ucap Tito.
Dalam upacara pemberian brevet kehormatan yang digelar pada Rabu di Landasan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur tersebut, Hadi bertindak sebagai Kepala Satuan Angkatan Udara.
Sebelum upacara pemberian brevet kehormatan, Hadi, Tito, Ade, dan Mulyono menjajal empat unit pesawat Sukhoi SU-30 yang masing-masingnya diterbangkan oleh pilot-pilot handal dari TNI Angkatan Udara.
"Kita tadi terbang dengan Formasi Right Echelon," ungkap Hadi.
Awalnya, lanjut Hadi, mereka akan mengadakan latihan formasi two-feat-two yang bertujuan untuk melakukan intercept terhadap pesawat tempur namun rencana ini batal karena hujan.
"Tapi visibilitas cukup bagus, sejauh empat kilometer. Saya yakin mereka bertiga [Tito, Ade, dan Mulyono] merasakan sensasi naik Sukhoi terutama saat mendarat dengan menggunakan drag chute," ujar Hadi sembari tertawa.
Drag chute merupakan parasut yang tersimpan di ekor pesawat tempur yang membantu pesawat mengerem ketika mendarat di landasan pendek.
Tito pun tidak menampik kesan luar biasa ketika menunggangi Sukhoi untuk pertama kalinya. Ia juga merasa beruntung dan bangga bisa menaiki pesawat tempur buatan Rusia tersebut.