Surya Fachrizal Aprianus
20 Januari 2018•Update: 21 Januari 2018
Aynur Ekiz
ANKARA
Tujuh ratus pasien dan korban perang dipindahkan dari kawasan terblokade, Ghouta Timur, ke rumah sakit di ibu kota Suriah, Damaskus. Evakuasi itu sebagai hasil negosiasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Keterangan ini diumumkan pihak kepresidenan Turki pada Jumat.
Seorang sumber dari pihak kepresidenan mengatakan, pejabat Rusia mengabarkan kepada Ankara, pada Selasa korban-korban luka parah dan pasien yang dalam kondisi kritis telah dipindahkan ke Damaskus.
Krisis di Ghouta Timur telah dibahas secara intens oleh Turki dan Rusia. Dalam pembicaraan telepon pada 22 Desember, Presiden Erdogan mendesak upaya perbaikan situasi di Ghouta Timur.
Erdogan menuntut Moscow mendesak rezim Suriah mengizinkan evakuasi para pasien dan korban perang.
Erdogan mengatakan kepada Putin, Ankara siap mengevakuasi pasien-pasien tersebut ke Turki.
Erdogan kembali membicarakan krisis di Ghouta dalam pembicaran telepon dengan Putin pada 11 Januari. Pada kesempatan itu, Putin mengabarkan, 30 pasien kritis telah dievakuasi bersama dengan keluarga mereka.
Putin menjamin kepada Erdogan, dirinya yang akan memonitor situasi di sana.
Kawasan Ghouta Timur dihuni 400 ribu jiwa, telah diblokade oleh rezim Suriah selama lima tahun. Akses bantuan kemanusiaan ke kawasan itu ditutup total oleh rezim. Akibatnya ratusan orang dalam keadaan kondisi kesehatan kritis akibat blokade rezim.
Dalam delapan bulan belakangan, rezim Bashar al-Assad meningkatkan blokade mereka di Ghouta Timur. Telah banyak anak-anak dan bayi yang meninggal dunia karena malnutrisi, kelaparan, dan kekurangan obat.
Kawasan Ghouta Timur adalah salah satu daerah yang masuk zona de-eskalasi yang disepakati Turki, Rusia, dan Iran. Semestinya segala bentuk serangan dilarang dilakukan di daerah itu.
Krisis Suriah terjadi sejak awal 2011, ketika rezim Assad memberangus rakyatnya yang menuntut reformasi dan perubahan.