Nilay Kar Onum
ISTANBUL
Turki tidak mempunyai niat untuk menduduki bagian manapun dari Suriah, kata Juru Bicara Turki Ibrahim Kalin pada Sabtu.
"Tidak ada niat untuk menduduki Suriah," ujar Kalin kepada wartawan dari berbagai media -- termasuk CNN, BBC, AFP, Daily Sabah, TRT World dan Anadolu Agency -- di Istanbul.
"Setelah operasi selesai, kami akan kembalikan wilayah tersebut kepada masyarakat Afrin. Mereka juga akan terbebas dari ancaman YPG dan PYD di sana."
Dia melanjutkan, operasi di bagian barat laut Suriah itu berjalan seperti rencana. "Kami melakukan kemajuan besar terkait Afrin dan Operasi Ranting Zaitun."
Juru Bicara Presiden mengatakan operasi tersebut memiliki tiga tujuan: mengamankan daerah perbatasan Turki, membersihkan teritori Suriah dari organisasi teroris, dan memastikan integritas teritorial Suriah.
"Semua tahu sejak awal bahwa PYD dan YPG adalah PKK. Organisasi ini memiliki struktur yang sama," ucap dia.
"Mereka [YPD dan PTD] telah mengancam perbatasan kami sejak lama. Kami masih berusaha mendesak Amerika untuk berhenti bekerja sama dengan mereka," tambah dia.
Tidak ada korban sipil
"Kami telah berhasil menghindari korban sipil sejauh ini. Masyarakat lokal dibantu oleh AFAD [Lembaga Manajemen Bencana dan Darurat Turki], Bulan Sabit Merah Turki, dan lembaga lain," ujar Kalin. "Tentara kami sangat berhati-hati menghadapi isu ini."
"Di lapangan, kami tidak menerima laporan adanya korban penduduk sipil," tekan dia.
Dia menyebutkan tentang "perang propaganda" yang diluncurkan untuk melawan Operasi Ranting Zaitun, di mana gambar-gambar dari berbagai area konflik tersebar di sosial media untuk mendiskreditkan operasi tersebut.
"Saya rasa orang-orang harus berhati-hati melihat propaganda PKK dalam hal ini," ujar dia.
Kalin juga menyangkal jika tentara Turki disebut menggunakan bom napalm selama operasi.
"Kami tidak memiliki bom seperti itu. Baik soal bom tersebut atau tuduhan menyerang situs sejarah, gereja, atau monumen, adalah tidak benar," tambah dia.
Internasional 'sambut baik'
Juru bicara presiden berkata reaksi dari dunia internasional menyangkut operasi ini sangat positif.
"Tidak ada yang mempertanyakan legitimasi operasi tersebut. Sejauh ini, seperti yang saya katakan, mereka menyambut baik."
Terkait dengann konferensi Sochi pada Kamis, dia berkata: "Kami masih membahas tentang transisi politik di Suriah. Diskusi ini tidak mudah tapi ini adalah salah satu tujuan utama semua operasi militer di sana."
Dia juga menyambut baik hasil kesepakatan Sochi untuk membentuk komite yang akan merancang konstitusi untuk Suriah.
Negara-negara penjamin -- Rusia, Iran dan Turki -- telah setuju untuk berkumpul dan membicarakan kembali soal perdamaian di Suriah di Sochi, Rusia, minggu ini. Sebelumnya, pertemuan tingkat tinggi di Astana, Kazakhstan, mendahului pertemuan Sochi.
"Masih banyak hal yang harus dikerjakan. Kami berusaha untuk menjaga perdamaian dan keamanan di lapangan tapi kami juga berusaha untuk mendorong terjadinya negosiasi di saat yang sama. Tentu saja, ini tidak akan mudah, kita semua tahu ini adalah permasalahan yang pelik."
Bicara tentang formasi posisi pemantauan di Idlib, yang merupakan zona de-eskalasi, dia berkata: "Kami membangun 12 posisi pemantauan sebagai bagian dari perjanjian Astana. Kamis sudah membangun lima, dan dalam proses membangun yang keenam. Ada beberapa kesalahpahaman, miskomunikasi, tapi kami sudah mengatasinya."
"Kami akan berusaha untuk membangun semua secepat mungkin sehingga kami bisa mengamankan Idlib seperti yang didiskusikan di pertemuan Astana yang terakhir," tambah dia.
Berbicara tentang posisi Turki di Suriah di masa depan dia berkata: "Kami tidak percaya dia [Bashar al-Assad] adalah pemimpin yang akan menyatukan Suriah. Dia telah kehilangan legitimasi dan kemampuan untuk menyatukan Suriah setelah semua tindak kriminalnya."
"Akan ada konstitusi baru dan akan ada pemilihan umum [di Suriah]. Itu tujuannya. Memang tidak akan mudah, tapi itulah tujuan utamanya."
Tak ada kesepakatan dengan Rusia
Menanggapi pertanyaan tentang kesepakatan yang dilakukan Rusia soal Afrin, juru bicara presiden berkata tidak ada kesepakatan semacam itu. "Tidak ada kesepakatan dengan Rusia untuk memberikan Idlib dan mengambil Afrin [...]"
Menyatakan bahwa tidak ada batas waktu untuk melakukan operasi ini, pembantu presiden berujar: "Operasi akan terus berlanjut selama diperlukan."
Menanggapi pertanyaan apakan Turki mengantisipasi banjirnya penduduk ke perbatasan Turki setelah operasi ini, dia berkata: "Kami tidak mengharapkan adanya lonjakan pengungsi saat ini [...] Kami mengharapkan perpindahan ke Afrin."
Pada 20 Januari, Turki melancarkan Operasi Ranting Zaitun untuk mengusir teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin.
Menurut Staf Militer Turki, Operasi Ranting Zaitun bertujuan untuk mewujudkan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan seluruh wilayah Turki, serta melindungi penduduk Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.
Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak-hak Turki, yang berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak-hak membela diri di bawah Piagam PBB, dengan menghormati integritas teritorial Suriah.
Militer Turki juga berkata bahwa "sangat penting" untuk tidak menyakiti penduduk sipil.
Afrin telah menjadi tempat persembunyian PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Assad di Suriah meninggalkan kota tersebut untuk kelompok teror tanpa perlawanan.
news_share_descriptionsubscription_contact

