Nıcky Aulıa Wıdadıo
21 Januari 2020•Update: 22 Januari 2020
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sebanyak 82 orang meninggal akibat bencana alam yang terjadi pada 1-21 Januari 2020, terutama akibat banjir dan longsor.
Kepala Pusat Data, Humas dan Komunikasi Bencana BNPB Agus Wibowo mengatakan tren bencana banjir dan longsor tahun ini dipicu oleh fenomena hujan ekstrem.
Peristiwa banjir dan longsor yang terjadi di Jabodetabek dan Banten menjadi yang terparah pada awal tahun ini karena menyebabkan 62 orang meninggal.
Padahal, kata Agus, fenomena hujan ekstrem yang memicu banjir dan longsor sudah diprakirakan oleh Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya.
“Selain itu kerusakan lingkungan juga menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya bencana tersebut,” kata Agus, melalui keterangan tertulis, Selasa.
Faktor kerusakan lingkungan itu ditemui pada banjir bandang dan longsor yang terjadi di Lebak, Banten dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
BNPB menemukan adanya alih fungsi lahan dan maraknya pertambangan emas ilegal.
Secara umum BNPB mencatat telah terjadi 207 peristiwa bencana alam pada 1-21 Januari 2020 yang terdiri dari puting beliung sebanyak 90 peristiwa, kemudian 67 peristiwa banjir, 45 bencana tanah longsor, tiga kebakaran hutan dan lahan, serta dua gelombang pasang atau abrasi.
Selain korban meninggal, ada tiga orang yang dinyatakan hilang, 83 orang luka-luka dan sekitar 800 ribu orang mengungsi.
Bencana juga merusak 11.305 unit rumah dan 197 unit fasilitas umum termasuk sekolah, fasilitas kesehatan hingga rumah ibadah.
Terkait faktor kerusakan lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merekomendasikan teknik soil bioengineering sebagai opsi rehabilitasi di kawasan rawan longsor.
Dalam teknik ini, vegetasi berperan penting meningkatkan kestabilan lereng untuk mencegah longsor.
Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan KLHK, Budi Hadi Narendra mengatakan salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam teknik ini adalah pohon bidara laut karena memiliki akar yang kuat.
Penanaman bidara laut di kawasan rawan longsor, lanjut dia, juga bisa dikombinasikan dengan tanaman jenis vetiver.
“Bidara laut cocok ditanam karena ukurannya tidak besar sehingga tidak membebani lereng dan ketika dikombinasikan dengan vetiver bisa efektif mengurangi erosi,” kata Budi di Jakarta, Selasa.
Selain itu, KLHK meminta agar pemerintah daerah juga memperhatikan aturan tata ruang, merehabilitasi sempadan sungai, serta mencegah alih fungsi lahan yang dapat meningkatkan potensi paparan bencana longsor dan banjir bandang.