Hayati Nupus
09 September 2020•Update: 09 September 2020
JAKARTA
Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-53 digelar mulai hari ini hingga Sabtu lewat konferensi virtual di tengah pandemi Covid-19.
Dalam pembukaannya, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan bukti ASEAN dapat beradaptasi dengan kondisi baru di tengah pandemi dan bersatu mengatasi semua tantangan.
“Kohesif dan responsif bukan hanya tema ASEAN 2020. Kohesif dan responsif, bersama dengan proaktif dan bertanggung jawab, telah menjadi brand ASEAN, yang memungkinkan kami untuk berdiri bergandengan tangan dalam menghadapi tantangan yang sangat besar dan terus maju,” ujar Phuc dari Government Guest House, Hanoi, Vietnam, dalam siaran langsung di laman Facebook ASEAN 2020 Vietnam hari ini.
Salah satu agenda utama AMM kali ini adalah pembahasan soal Covid-19, selain pula persiapan KTT ASEAN ke-37.
Phuc mengusulkan pemanfaatan ASEAN Covid-19 Response Fund semaksimal mungkin dan pengoperasionalan Regional Reserve of Medical Supplies demi meningkatkan kapasitas ASEAN dalam mengendalikan pandemi.
“ASEAN juga perlu memfasilitasi perdagangan dan investasi, memperbaiki rantai pasokan yang terganggu, meningkatkan konektivitas dan saling mendukung untuk menjembatani kesenjangan pembangunan antar subkawasan,” lanjut Phuc.
Phuc juga menekankan pentingnya pemanfaatan nilai-nilai dan identitas ASEAN untuk mengedepankan dialog, kerja sama dan membangun kepercayaan di kawasan.
AMM ke-53 akan menggelar sederet agenda, di antaranya adalah Pertemuan Southeast Asia Nuclear-Weapon-Free Zone (SEANWFZ), Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN + 3 ke-21, Pertemuan Menteri Luar Negeri KTT Asia Timur ke-10, dan Forum Regional ASEAN ke-27.
Selain pula membahas persoalan Laut China Selatan, Semenanjung Korea, dan Rohingya.
ASEAN berdiri sejak 1967, dengan 10 negara anggota, yaitu Indonesia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, dan Vietnam.