Iqbal Musyaffa
30 November 2020•Update: 01 Desember 2020
JAKARTA
Sektor pertanian Indonesia membutuhkan pendekatan berbasis sains, riset dan teknologi untuk bisa lebih berkembang dibandingkan dengan kondisi saat ini, ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Senin.
Menteri Syahrul mencontohkan cuaca di Indonesia sering tidak menentu sehingga memengaruhi hasil pertanian.
Untuk mengatasi hal ini, sektor pertanian memerlukan artificial intelligence, pengamatan cuaca dengan pencitraan satelit lebih dekat atau dengan sistem digital lainnya.
Dengan demikian, cuaca yang tidak menentu itu bisa diantisipasi.
"Tahun depan harapannya sudah ada sekolah pertanian untuk bisa mengembangkan bonus demografi yang sebagian besar berisi anak muda usia produktif," ujar dia dalam diskusi virtual.
Menteri Syahrul menilai perguruan tinggi dengan fakultas pertanian masih belum mengaplikasikan pendekatan baru berdasarkan internet, artificial intelligence, ataupun teknologi digital sektor pertanian.
Menurut dia, pengembangan pertanian tidak bisa dilakukan hanya melalui diskusi menyusun kurikulum sekolah pertanian, karena ilmu ini harus langsung dipraktikkan.
“Tahun depan saya coba intervensi kerja sama dengan perguruan tinggi yang mau dengan cara pendekatan baru berbasis teknologi digital,” ungkap dia.
Menteri Syahrul berharap pada tahun depan sektor pertanian bisa mulai memasuki mekanisme yang lebih modern melalui robot, artificial intelligence, ataupun drone dan juga teknologi lainnya.
Selain itu, dia menilai dalam pengembangan sektor pertanian juga perlu ada jalan pintas dalam membenahi jalur distribusi sistem logistik.
Salah satu upayanya adalah dengan membuat lumbung pangan mulai dari tingkat desa hingga provinsi sehingga meskipun dampak pandemi masih akan terasa hingga 2022, ketersediaan makanan untuk masyarakat masih bisa diandalkan.