JAKARTA
Sekitar tujuh puluh persen warga Thailand telah melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial untuk menekan laju penyebaran Covid-19, menurut survei yang digelar oleh Departemen Kesehatan Mental.
Direktur Jenderal Departemen Kesehatan Mental Dr Kiattiphoom Vongrachit mengatakan survei itu digelar pekan lalu dengan melibatkan 26.000 responden.
“Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk mendorong kampanye [menjaga jarak sosial],” ujar Vongrachit, kutip the Bangkok Post, hari ini.
Vongrachit mengatakan standar yang digunakan adalah 80 persen, berdasarkan penelitian di Australia.
Penelitian itu berupaya menemukan berapa nilai ambang batas agar transmisi Covid-19 berhenti.
Namun Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand memperkirakan bahwa jumlah kasus Covid-19 akan mencapai 7.745 pada 15 April jika kepatuhan jarak sosial melebihi 80 persen.
Kasus akan berlipat menjadi 17.635 di tanggal yang sama, jika kepatuhan jarak sosial hanya 50 persen.
Sedang jika tanpa jarak sosial, kasus akan meroket menjadi 150.000 dalam dua pekan.
“Jarak sosial adalah alat ampuh untuk memerangi Covid-19 dan senjata ini membutuhkan keterlibatan semua warga Thailand,” kata Vongrachit.
Rincian hasil survei itu, 71 persen responden mengatakan telah menghindari kerumunan, 24,7 persen mengaku kadang-kadang perlu bergaul, dan sisanya menyatakan tidak ada perubahan perilaku.
Sementara itu 68 persen responden mengatakan mereka selalu menjaga jarak dua meter dari yang lain, 26,6 persen mengaku melakukannya kadang-kadang, sedang sisanya menyatakan mengabaikan protokol jarak.
Survei itu menyimpulkan mayoritas warga Thailand tidak panik dengan adanya Covid-19. Kekhawatiran 70 persen responden terhadap Covid-19 adalah moderat, yang berarti mereka tidak panik atau riang.
Sementara 76 persen mengatakan mereka cukup takut dengan penyakit Covid-19, sedang 18 persen mengaku mereka dicekam ketakutan, 56 persen lainnya khawatir terhadap pandemi global rendah.
news_share_descriptionsubscription_contact
