Pizaro Gozali İdrus
05 Maret 2019•Update: 05 Maret 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Senin menegaskan ancaman kekerasan kelompok Abu Sayyaf telah mengusir investor dari negaranya, lansir Philstar.
Duterte memperingatkan Filipina tidak akan pernah bangkit secara ekonomi jika gagal mengatasi persoalan keamanan.
Duterte mengatakan Abu Sayyaf, yang telah berjanji setia kepada kelompok teroris Daesh, tidak menganut ideologi lain "kecuali membunuh dan menghancurkan" Filipina.
"Jika kita tidak berhasil menyingkirkan mereka, semua orang tidak ingin berinvestasi di Filipina," ujar Duterte.
"Kami tidak akan maju jika situasi kami tidak berubah. Ditambah dengan revolusi, kemudian narkoba. Saat ini, narkoba menyebabkan kesengsaraan jutaan orang," tambah dia.
Duterte menegaskan dirinya menolak mengadakan pembicaraan resmi dengan Abu Sayyaf.
Namun dia bersedia memberikan bantuan kepada orang-orang yang telah berpaling dari kekerasan.
“Jika kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku. Jika kamu butuh uang, jangan ambil sandera. Mungkin memberi masing-masing P100.000 sudah cukup. Tidak ada sandera lagi. Atau mungkin P500.000 masing-masing? " kata Duterte.
Desember lalu, Filipina memperpanjang darurat militer di Mindanao hingga akhir 2019.
Keputusan itu diambil setelah mayoritas anggota kongres setuju memperpanjang darurat militer.
Perpanjangan darurat militer ini adalah yang ketiga dilakukan oleh Presiden Rodrigo Duterte.
Akhir 2017, Duterte minta Kongres untuk memperpanjang darurat militer hingga Mei 2018.
Sebelum berakhir, Duterte juga memohon perpanjangan hingga akhir tahun 2018.