Muhammad Nazarudin Latief
17 April 2020•Update: 17 April 2020
JAKARTA
Ekspor non migas Singapura pada Maret naik 17,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, didorong lonjakan pengiriman emas, ujar data resmi yang dirilis pada Jumat.
Kenaikan ini berbeda dengan prediksi yang rata-rata meramalkan penurunan sebesar 8,9 persen, seperti yang diperkirakan oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.
Itu juga melebihi konsensus pasar Bloomberg yang memprediksi penurunan sebesar 8 persen dan perkiraan OCBC tentang penurunan 9,9 persen.
Secara bulanan, ekspor naik sebesar 12,8 persen, membalikkan penurunan 4,7 persen bulan sebelumnya.
Lonjakan tajam dalam ekspor sebagian besar disebabkan oleh kenaikan 20,5 persen pengiriman non-elektronik, menurut Singapore Enterprise.
Ekspor emas, mencakup semua emas yang tidak dimiliki sebagai aset cadangan pemerintah, melonjak sebesar 242,5 persen bulan lalu.
Itu diikuti oleh pengiriman mesin khusus dengan kenaikan 54,2 persen dan obat-obatan, dengan 48,6 persen.
Dilaporkan ada lonjakan permintaan emas fisik sebagai aset safe haven karena ketidakpastian ekonomi global di tengah wabah COVID-19, kata Singapore Enterprise.
Kepala penelitian dan strategi OCBC Selena Ling menghubungkan kenaikan ekspor emas dengan harga yang lebih tinggi.
"Ekspor emas non-moneter terangkat oleh kenaikan harga emas karena meningkatnya penghindaran risiko dan volatilitas pasar keuangan," kata dia seraya menambahkan bahwa ekspor farmasi juga meningkat karena pandemi COVID-19, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Pengiriman elektronik meningkat 5,8 persen pada Maret, sebagian disebabkan oleh efek dasar karena penurunan dalam industri elektronik tahun lalu.
Ekspor ke sebagian besar pasar utama Singapura naik, kecuali Malaysia, Indonesia dan Cina.
Kontributor terbesar adalah Thailand dengan peningkatan 147,2 persen, Amerika Serikat dengan 22,5 persen dan Jepang dengan 47,6 persen.
Menteri Perdagangan dan Industri Chan Chun Sing menggambarkan angka-angka itu sebagai "sedikit kabar baik", tetapi memperingatkan agar tidak berpuas diri.
"Beberapa bulan ke depan akan sangat sulit karena permintaan global menyusut dan bergeser. Kita harus berada di ujung jari kita untuk mengelola tantangan dan mempertahankan pekerjaan untuk pekerja kita," kata Chan dalam posting Facebook.
"Bahkan ketika kita mencoba keluar dari tantangan jangka pendek, kita juga tidak boleh melupakan masa depan dan terus mengembangkan rencana jangka panjang yang akan membantu bisnis kita pulih dan menciptakan lapangan kerja," kata dia.
Tan Khay Boon, dosen senior di SIM Global Education, mengatakan "tidak ada indikasi" bahwa pelemahan permintaan ekspor berakhir.
Dengan penurunan permintaan luar negeri dan gangguan dalam pasokan global, ekspor Singapura kemungkinan akan "tetap lesu" sampai pandemi Covid-19 berhasil dikendalikan.