JAKARTA
Paket stimulus ekonomi 2020 yang diluncurkan untuk menghadapi wabah Covid-19 di Malaysia ditanggapi beragam oleh para ekonom.
Perdana Menteri sementara Mahathir Mohamad mengatakan bertujuan meredam dampak wabah tersebut pada ekonomi yang sebenarnya sudah limbung akibat perang dagang antara Amerika Serikat - China.
Namun, paket stimulus sebesar USD4,7 miliar ini bisa memperlebar defisit fiskal negara itu dari 3,2 persen menjadi 3,4 persen dari rasio produk domestik bruto (PDB).
Mahathir juga mengatakan pemerintah memangkas target pertumbuhan PDB Malaysia tahun ini dari 4,8 persen menjadi antara 3,2 hingga 4,2 persen.
Pengajar di Departemen Strategi dan Kebijakan Bisnis Universiti Malaya Mohd Nazari Ismail mengatakan paket stimulus itu tidak membahas masalah mendasar yang menyebabkan ekonomi mandek.
“Paket stimulus adalah langkah politik untuk memastikan rakyat tidak marah kepada pemerintah karena tidak melakukan apa-apa tentang perlambatan ekonomi.
"Sebenarnya, itu bukan solusi nyata," kata dia dikutip dari Malaymail.
Hasil penelitian, menurut dia, menunjukkan bahwa dorongan ekonomi seperti ini tidak memberikan hasil yang bertahan lama.
Tingkat utang Malaysia yang tinggi bisa jua membuat insentif ini tidak bisa meningkatkan konsumsi, ujar dia, sembari menambahkan bahwa banyak yang menghadapi risiko keuangan serius jika terjadi perlambatan ekonomi.
“Jadi, pada prinsipnya, saya tidak setuju dengan stimulus ekonomi. Saya lebih suka bahwa masyarakat belajar bahwa mereka perlu menghindari hutang sehingga mereka tidak akan terlalu terpengaruh oleh perlambatan ekonomi.
"Dengan begitu kita tidak membebani pemerintah (yang dalam kenyataannya berarti kita tidak membebani masyarakat lainnya) karena keputusan nekat perusahaan yang mengambil terlalu banyak utang," kata dia.
Ekonom terkemuka Tan Sri Ramon Navaratnam berpendapat sebaliknya dan mengatakan paket stimulus diperlukan untuk menghidupkan kembali ekonomi yang melambat.
“Saat ada permintaan untuk lebih banyak dana dan menyebabkan defisit anggaran. Ini adalah pilihan pragmatis untuk saat ini.
"Ini artinya kita harus mengawasi situasi dengan hati-hati jika membutuhkan lebih banyak anggaran, kita mungkin harus merelakan adanya defisit yang lebih besar untuk mewujudkan situasi yang lebih stabil," kata dia.
Namun, Ramon mengatakan pemerintah harus berusaha mengurangi pemborosan agar bisa lebih berhemat.
Ramon memuji Mahathir karena memprioritaskan kebutuhan masyarakat dengan pengumuman paket stimulus meskipun ada krisis politik di negara itu.
William Ng dari Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah Malaysia (Samenta) juga menyambut paket stimulus, menyatakan bahwa itu adalah langkah yang tepat setelah efek negatif Covid-19 menghantam perdagangan dan bisnis.
“Kami menghargai pemerintah yang memperhatikan pada sektor pariwisata, hotel dan transportasi, yang paling awal terpengaruh Covid-19 dan menggelontorkan banyak bantuan pada sektor ini.
“Ini termasuk penangguhan pembayaran pajak penghasilan badan, subsidi listrik, pembebasan pajak layanan, dan keringanan pajak sebesar RM1.000 (USD236) bagi warga Malaysia untuk memilih tujuan perjalanan domestik.
“Sektor ritel, yang terpukul parah oleh Covid-19, juga akan mendapat manfaat dari hingga RM10 miliar (USD2,3 miliar).
“Untuk UKM secara umum, pemerintah telah menyisihkan pinjaman lunak RM2 miliar (USD473 juta) dengan bunga 3,75 persen untuk modal kerja. Ini akan berguna bagi UKM yang telah melihat pembatalan atau penangguhan pesanan, "ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
