Chandni
03 Mei 2018•Update: 04 Mei 2018
COLOGNE, Jerman
Pakar dan aktivis internasional menegaskan diperlukan solidaritas lebih kuat untuk perempuan-perempuan Rohingya yang menjadi korban kekerasan seksual oleh pasukan keamanan Myanmar.
Dalam konferensi bertajuk "Krisis dan Solusi Rohingya" di Cologne, Jerman, Dr. Graham Thom, Koordinator Pengungsi Amnesty International Australia, mengatakan ribuan perempuan diperkirakan menjadi korban kekerasan seksual dalam enam bulan terakhir.
“Kekerasan ini tidak hanya tersebar luar, namun juga disengaja dan ditargetkan. Ini adalah bagian dari kampanye,” katanya, menggambarkan kekerasan yang digunakan militer Myanmar untuk mengusir Rohingya keluar dari Rakhine.
Razia Sultana, seorang pendidik dan ahli dalam bidang trauma dan kekerasan seksual, mengatakan banyak perempuan Rohingya disiksa, diperkosa massal atau dibunuh oleh tentara Myanmar.
"Penelitian dan wawancara yang saya lakukan memberikan bukti bahwa pasukan pemerintah memperkosa lebih dari 300 perempuan di 17 desa di Rakhine," katanya dalam pesan video.
Sultana mengkritik komunitas internasional karena gagal menghentikan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan.
“Komunitas internasional - terutama Dewan Keamanan PBB - mengecewakan kami. Krisis ini seharusnya bisa dicegah bila tanda-tanda yang muncul sejak 2012 tidak diabaikan. ”
Munira Subasic, ketua organisasi Mothers of Srebrenica, menyerukan keberanian dan tekad yang dibutuhkan membawa para pelaku kejahatan ke pengadilan.
“Pada tahun 1995, sejumlah besar wanita, ibu, anak perempuan dan gadis kecil diperkosa di Srebrenica. Itulah mengapa kami, para ibu, menolak duduk diam dan ingin bersuara untuk menuntut kebenaran dan keadilan,” katanya dalam konferensi itu.
“Kami berkumpul dalam jumlah besar, protes, dan memaksa pihak berwenang mendengarkan kami. Pada awalnya, mereka tidak menggubris. Tetapi kami menolak menyerah dan mendesak agar mereka mendengar permohonan kami. Setelah berusaha kerasa, mereka akhirnya mendengar kami,” ceritanya.
Subasic, yang suami, putra dan 22 anggota keluarganya dibantai pada Juli 1995 oleh pasukan militer Serbia, menekan pentingnya meneliti dan mendokumentasikan kejahatan, mengajukan petisi kepada organisasi internasional dan mengajukan tuntutan hukum terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan ini.
Dia mendesak kekuatan dunia untuk mengambil tindakan terhadap kejahatan dan kebijakan genosida oleh rezim Myanmar.
"Duduk diam ketika sedang terjadi genosida sama saja dengan memperbolehkannya," katanya.
Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan meningkat atas serangan yang membunuh puluhan orang pada kekerasan komunal pada 2012.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB. Mereka melarikan diri dari operasi keamanan yang membunuh, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.
Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan. Itu termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak — pemukulan brutal dan penghilangan oleh petugas keamanan. Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.