Chandni
21 Maret 2018•Update: 22 Maret 2018
Rafiu Ajakaye
LAGOS, Nigeria
Amnesty International pada Selasa mengatakan militer Nigeria mengabaikan peringatan awal mengenai Boko Haram yang diduga bergerak ke sebuah kota di mana kemudian mereka menculik 110 siswi sekolah.
Setidaknya 110 anak-anak perempuan diculik setelah pada 19 Februari lalu sekolah mereka diserang oleh militan bersenjata. Insiden ini terjadi hampir empat tahun setelah 276 siswi-siswi sekolah diculik di Chibok, di negara bagian Borno. Setidaknya 113 dari korban sandera itu masih disekap.
Lembaga HAM itu mengatakan mereka menerima informasi dari warga setempat dan polisi bahwa pihak militer sudah tahu Boko Haram masuk ke Dapchi, namun gagal mengirimkan pasukan untuk mencegah serangan yang diggambarkan sebagai "bencana nasional" oleh Presiden Muhammadu Buhari.
"Amnesty International mengumpulkan testimoni dari sejumlah sumber terpercaya yang mengatakan militer dan polisi Nigeria menerima beberapa panggilan telepon empat jam sebelum serangan di Dapchi, namun tidak mengambil langkah untuk mencegah aksi penculikan atau menyelematkan gadis-gadis yang dibawa kabur oleh Boko Haram," tulis Amnesty dalam laporan mereka.
Laporan mereka juga mengutip Osai Ojigho, kepala Amnesty International di Nigeria, yang menuntut agar "kelengahan keamanan" itu diselidiki secara penuh dan mendesak agar pemerintah berupaya keras menyelamatkan para korban.
"Pihak berwenang tampaknya tidak belajar apapun dari insiden penculikan 276 perempuan di Chibok pada 2014 dan gagal melindungi warga Nigeria, khususnya siswi-siswi sekolah," lanjut laporan itu.
'Amnesty International tidak membantu kami'
Departemen pertahanan Nigeria menampik semua tuduhan yang menurut mereka "tidak adil dan tidak bertanggung jawab" tersebut.
Juru bicara militer John Agim mengatakan LSM itu terkenal suka menggiring opini, dan klaim ini muncul setelah Abuja dan AS setuju meningkatkan kerja sama untuk membasmi pemberontak.
Dia juga mengatakan Amnesty tidak bisa menjawab sejumlah keraguan, termasuk unit keamanan mana yang menerima peringatan mengenai serangan yang dimaksud.
"Jawabannya sangat mudah: Amnesty International tidak siap membantu kami mencari solusi untuk masalah-masalah yang kami hadapi," kata Agim. "Sebaliknya, mereka malah memperkeruh keadaan."
Amnesty adalah organisasi "yang dibentuk untuk meluncurkan kampanye-kampanye yang menyerang militer Nigeria dan mengabaikan pencapaian mereka mengalahkan Boko Haram," tambah Agim. Tuduhan-tuduhan mereka "tidak bisa diterima," tutupnya.