Rıskı Ramadhan
21 Maret 2018•Update: 21 Maret 2018
Mohamad Misto, Ayse Dogru
GHOUTA TIMUR/ANKARA
Sedikitnya 59 warga sipil di Ghouta Timur tewas akibat serangan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pendukungnya ke daerah yang berada dalam blokade tersebut, Selasa.
Menurut koresponden Anadolu Agency di Ghouta Timur, rezim Assad dan pendukungnya tanpa henti membombardir seluruh wilayah Ghouta Timur dari darat dan udara sepanjang hari.
Menurut personel tinggi Pertahanan Sipil White Helmets, serangan-serangan tersebut menewaskan 56 warga sipil di daerah Duma dan tiga warga sipil di Haresta.
Pejabat White Helmets mengatakan, mereka masih belum dapat menjangkau korban luka dan tewas di sejumlah daerah karena serangan yang bertubi-tubi, sehingga diperkirakan masih ada korban lainnya.
Serangan-serangan rezim Assad ke daerah tersebut selama lima hari terakhir telah menewaskan lebih dari 150 warga sipil.
Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2401, yang menyerukan gencatan senjata kemanusiaan selama sebulan di Suriah, terutama Ghouta Timur.
Tiga hari kemudian, Rusia mengumumkan gencatan senjata selama lima jam setiap harinya di daerah tersebut. Rusia juga menyatakan bahwa rezim akan mengikuti keputusan itu.
Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB untuk Suriah sebelumnya menyatakan bahwa rezim Assad telah melakukan serangkaian kejahatan perang seperti menghalangi evakuasi medis, membuat rakyat kelaparan dan menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil di Ghouta Timur.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur, telah berada di bawah pengepungan yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir.
Meski Ghouta Timur juga telah ditetapkan sebagai zona de-eskalasi dalam kesepakatan Astana, Rezim Assad semakin memperketat blokade kawasan tersebut sejak April tahun lalu.
Rezim juga telah mengintensifkan serangan dalam beberapa bulan terakhir.
Ribuan pasien termasuk anak-anak yang sebagian besarnya menderita kanker menunggu untuk segera dievakuasi dari daerah yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan tersebut.
Sejumlah bayi, anak-anak dan pasien meninggal karena tidak mendapatkan perawatan medis dan asupan gizi yang cukup.