Astudestra
27 Agustus 2017•Update: 28 Agustus 2017
Canberk Yuksel and Michael Hernandez
NEW YORK
Sebastian Gorka meninggalkan posisinya sebagai penasihat kontra-terorisme bagi Presiden Donald Trump, begitu menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih pada Jumat malam.
Gorka, sekutu dekat mantan kepala strategi Trump, Stephen Bannon, “tidak mengundurkan diri, tapi Saya bisa memberi konfirmasi jika dia tak lagi bekerja di Gedung Putih,” kata seorang pekerja Gedung Putih, yang menghendaki namanya dirahasiakan kepada Anadolu Agency.
Gorka, yang kerap tampil di TV untuk membela kebijakan-kebijakan dan pendapat-pendapat Trump, dikenal karena gaya bicaranya yang berani dan pandangannya yang keras soal memerangi terorisme.
Beberapa menuduh Gorka punya hubungan dengan kelompok anti-Semitik, sementara beberapa lagi meragukan kredensialnya sebagai ahli terorisme.
Kepergian Gorka hanya terpaut seminggu setelah Bannon meninggalkan Gedung Putih untuk kembali ke redaksi Breitbart News, di mana Gorka dulu pernah bekerja sebagai Editor.
Pada Mei, 55 anggota Demokrat di parlemen menandatangani petisi supaya Trump memecat Gorka. “Sebagai bagian dari Kongres AS yang sangat peduli soal memerangi gerakan anti-Semitik di dalam maupun luar negeri, kami memohon supaya Presiden Trump segera melepas tugas penasihat senior Gedung Putih untuk kontra-terorisme Sebastian Gorka,” sebut petisi itu.
Petisi yang sama kemudian menuduh Gorka memiliki hubungan dengan “mantan anggota partai anti-Semitik Jobbik di Hongaria”.
Beberapa rekan kerja Gorka di Gedung Putih juga mulai menyangsikan kecakapan Gorka untuk posisi yang ditempatinya sekarang. Salah satu yang meragukan Gorka adalah peneliti bidang keamanan Michael S. Smith, yang pada Februari lalu menulis email untuk Gorka, memintanya untuk mengundurkan diri.
Smith menulis, selama Gorka dan Bannon tetap bekerja di Gedung Putih, “Saya hanya bisa mendoakan keberuntungan menyertai seluruh rakyat Amerika”.
Bannon, tokoh terpandang dalam kelompok yang menyebut diri sebagai gerakan “alt-right”, menjadi pusaran kontroversi setelah mendirikan Breitbart News – portal berita milik kelompok ini.
Selama masa kerjanya, Bannon diketahui beberapa kalo memaksakan agenda sayap-kanan, memaksa Trump menarik AS dari Paris Agreement dan berjanji menerapkan pelarangan bepergian (travel ban) yang banyak dianggap sebagai peraturan yang menargetkan kaum Muslim.
Saat melakukan wawancara dengan Sean Hannity dari Fox News di bulan Februari, Gorka dengan agresif membela travel ban, ia berkata: “Ini adalah rumah Amerika. Dan kalau kita tidak bisa mengontrolnya, adalah hal yang gila.”