Maria Elisa Hospita
06 Februari 2018•Update: 07 Februari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) prihatin atas sejumlah laporan mengenai serangan kimia oleh rezim Suriah.
"AS sangat mengkhawatirkan perkembangan serangan kimia di Suriah dengan adanya laporan demi laporan mengenai penggunaan gas klorin oleh rezim Suriah untuk menebarkan teror ke penduduk sipil, yang kali ini terjadi di provinsi Idlib, dekat Saraqib," kata Deplu AS lewat pernyataan.
Deplu menekankan bahwa serangan itu adalah yang keenam kalinya dalam 30 hari terakhir, dan mendesak masyarakat internasional untuk meminta Suriah berhenti menggunakan senjata kimia.
"Kami mendesak masyarakat internasional untuk satu suara menekan rezim Suriah dan pendukungnya secara terbuka dalam setiap kesempatan, untuk menghentikan penggunaan senjata kimia dan meminta pertanggungjawaban atas serangan brutal tersebut," begitu bunyi pernyataan tersebut.
Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa Rusia bertanggung jawab atas korban-korban yang berjatuhan di Ghouta Timur karena serangan kimia, yang terjadi sejak adanya campur tangan Moskow di Suriah.
Sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata pada Mei 2017, Idlib yang terletak di utara Suriah, dekat perbatasan Turki, ditetapkan sebagai zona de-eskalasi.
Meskipun begitu, rezim Suriah telah berulang kali melanggar kesepakaran tersebut dan menargetkan daerah-daerah permukiman seperti Idlib.
Idlib yang dikendalikan oleh kelompok bersenjata anti rezim telah menderita karena serangan udara selama dua bulan terakhir.
Selama bulan Januari saja, 211 warga sipil tewas dan 1.447 terluka.
Suriah telah terkepung dalam perang sipil sejak Maret 2011, ketika rezim Assad menyerang aksi protes kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Sementara pejabat PBB mengatakan ratusan ribu orang tewas dalam konflik tersebut, pejabat rezim mengatakan jumlah korban jiwa mencapai hampir 10.000 orang.