25 Oktober 2017•Update: 25 Oktober 2017
Muhammed Shekh Yusuf, Adham Kako
ANKARA
Syrian Network for Human Rights (SNHR) melaporkan kelaparan dan kekurangan obat telah menewaskan setidaknya 397 warga sipil di Ghouta Timur, pinggiran Damaskus, yang berada di bawah blokade rezim dan teroris asing pendukungnya sejak 2012.
Dalam laporan yang dirilis SNHR dari jumlah korban 397 tewas di antaranya 206 anak-anak dan 67 perempuan.
Rezim Asad dan pendukungnya mulai menerapkan blokade di Ghouta Timur sejak bulan Oktober tahun 2012, namun pada 19 Oktober 2013 blokade menjadi semakin kuat.
Sebagai hasil perundingan rezim Suriah dengan kelompok oposisi, semenjak tahun 2015 tercatat ada beberapa bahan makanan yang masuk ke Ghouta Timur melalui jalur kamp Al-Vafidin.
Lebih dari 350 ribu orang menjadi korban pengepungan rezim, mereka berjuang bertahan hidup dari serangan-serangan.
Akibat blokade, kebutuhan utama seperti susu hampir tidak mungkin didapatkan. Harga bahan pokok juga sudah sangat melambung.
Dalam laporan disebutkan harga satu kilogram beras adalah SYP 2.300 atau sekira 60 ribu rupiah. Harga gula pasir adalah SYP 5.700 atau sekira 150 ribu rupiah, sedangkan stok tepung sudah hampir habis.
Menurut laporan SNHR, warga bertahan hidup dengan buah-buahan dan makanan yang disimpan sebelumnya.
SNHR dalam laporan tersebut menuntut pemberlakuan keputusan Dewan Keamanan PBB nomor 2254, 2258, 2191, 2165 dan 2139 yang mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan.
SNHR juga menuntut evakuasi terhadap korban luka-luka dan pasien sakit.
Selain itu, SNHR menyerukan Perwakilan Khusus PBB untuk Suriah Stefan de Mistura untuk mengecam pembantaian dan blokade secara terbuka.