Jean Bosco
24 November 2017•Update: 24 November 2017
Jean Bosco
BUJUMBURA, Burundi
Pemerintah Burundi mengaku butuh dana 380 juta USD untuk membantu 70.000 warga misikin di seluruh negeri.
“Begitu didapat, uang itu akan digunakan selama jangka waktu lima tahun, sebagaimana ditetapkan dalam strategi nasional reintegrasi sosio-ekonomi korban untuk periode antara 2017 dan 2021,” ungkap Martin Nivyabandi, Menteri Hak Asasi Manusia, kepada Anadolu Agency, Kamis.
"Kelompok rentan ini terdiri dari orang-orang yang sudah kembali, kehilangan tempat tinggal, mantan gerilyawan, penyandang cacat, janda, anak yatim, orang-orang cacat kronis, Batwa [kelompok minoritas], albino dan korban bencana alam,” kata dia.
Burundi adalah negara dengan populasi lebih dari 11 juta jiwa. Lebih dari 90 persen hidup di area pedesaan yang secara langsung bergantung pada sektor pertanian.
Burundi sering dihantam cuaca ekstrem, yang menyebabkan turunnya produksi dan hancurnya hasil panen. Bencana yang paling berbahaya utamanya adalah tanah longsor, banjir, dan kekeringan.
Pada 2016, Kementerian HAM dan Sosial mengatakan dalam laporan tahunannya sedikitnya 48,281 keluarga terkena dampak bencana perubahan iklim.
Menurut World Bank, Burundi adalah salah satu negara termiskin di dunia. Hampir 65 persen populasinya hidup di bawah garis kemiskinan.
Tingkat kerentanan masyarakat Burundi terjadi akibat krisis politik dan keamanan yang telah berlangsung sejak 2015 ketika Presiden Pierre Nkurunziza memutuskan meminta mandat ketiga kalinya sebagai presiden, yang dinilai illegal oleh oposisi dan masyarakat sipil.