Nıcky Aulıa Wıdadıo
07 Februari 2020•Update: 07 Februari 2020
JAKARTA (AA) - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan kesepakatan kerja sama ekonomi komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) dalam rapat paripurna yang digelar, Kamis.
Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung dalam laporannya mengatakan kerja sama ini diharapkan bisa meningkatkan kinerja ekspor Indonesia sekaligus memangkas defisit neraca perdagangan.
Martin menuturkan meski ada penghapusan hambatan tarif dan non-tarif, DPR berharap tidak serta merta menghilangkan sertifikasi halal pada produk-produk impor yang masuk ke Indonesia.
“Khususnya pada produk makanan dan minuman baik kemasan maupun olahan,” kata Martin dalam rapat paripurna di Jakarta.
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan kerja sama membantu Indonesia meningkatkan kinerja ekspor barang dan jasa, membuka keran masuknya penanaman modal, dan mengembangkan sumber daya manusia di tengah pertumbuhan ekonomi dunia.
Di bidang perdagangan barang, IA-CEPA akan menghapus pos tarif produk ekspor Indonesia yang masuk ke pasar Australia menjadi nol persen saat diimplementasikan.
Beberapa produk yang berpotensi ditingkatkan ekspornya ke Australia antara lain otomotif, ban, kayu, furnitur, kayu lapis, pipa, monitor LCD/LED, tekstil dan garmen, alas kaki, perikanan, mentega kakao, karpet, serta plastik.
Sedangkan dari segi nilai, potensi ekspor terbesar Indonesia ke Australia ada pada sektor otomotif baik mobil konvensional maupun mobil listrik.
Selain itu, IA-CEPA juga mendorong ekspor kendaraan listrik dan hybrid Indonesia dengan tarif 0 persen dan menggunakan kemudahan surat ketentuan asal barang.
Di sektor jasa, IA-CEPA akan berdampak positif pada sektor transportasi, khususnya transportasi udara dan konstruksi.
Agus mengatakan Indonesia-Australia akan berkolaborasi dalam pembuatan “Economic Powerhouse”.
“Kolaborasi ini merupakan kolaborasi kekuatan ekonomi dengan memaksimalkan rantai pasok untuk mendorong produktivitas, daya saing, dan meningkatkan ekspor Indonesia ke pasar ketiga dan global,” tutur Agus.
Indonesia dan Australia, lanjut dia, juga dapat berkontribusi lebih besar pada rantai perdagangan global untuk memasok kebutuhan dunia.
Indonesia dapat menjadi pusat industri pengolahan untuk menghasilkan produk olahan yang bernilai tambah bila didukung adanya kemudahan akses bahan baku dan atau penolong yang murah dan berkualitas dari Australia.