Chandni Vasandani
25 Agustus 2017•Update: 27 Agustus 2017
WASHINGTON
Pada Kamis malam, negara bagian Florida di AS untuk pertama kalinya dalam sejarah mengeksekusi seorang tahanan berkulit putih di penjara Starke karena membunuh warga berkulit hitam.
Mark James Asay, 53, seorang penganut paham supremasi kulit putih, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati karena membunuh Robert Lee Booker, 34, dan Robert McDowell, 26, pada 1987. Asay dijadwalkan menerima suntikan mati.
Sejak Florida memberlakukan kembali peraturan hukuman mati pada 1976, setidaknya 18 pria berkulit hitam telah dieksekusi karena membunuh korban berkulit putih, menurut data dari Pusat Informasi Hukuman Mati.
Eksekusi Asay adalah yang pertama kali dilakukan Florida dalam 18 bulan ini, menggunakan obat eksperimental, yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Sebelumnya, penentang hukuman mati menekan perusahaan farmasi untuk berhenti menjual obat-obatan yang digunakan untuk bahan suntik mati. Oleh karena itu, sangat sulit untuk menemukan bahan kimia untuk sunti mati. Namun, beberapa ahli mengatakan obat baru ini bisa mengakibatkan rasa sakit dan membuat tubuh kejang, sehingga staf penjara sulit mengetahui apakah tahanan tersebut telah hilang kesadaran, sebelum tahapan berikut dalam eksekusi dilakukan.
Diceritakan, Asay dan teman-temannya mencari wanita penjaja seks setelah pesta minuman keras dan lomba menembak. Dia lalu menerjangkan peluru Booker, yang berpapasan dengannya di jalan, setelah sebelumnya Asay melontarkan ejekan rasis.
Korban keduanya adalah Robert McDowell, 26, yang multirasial. Jaksa mengatakan Asay menyewa jasa McDowell, yang berpakaian perempuan, namun kemudian menembaknya mati setelah sadar dia adalah pria, menurut catatan pengadilan.
Berbicara dengan stasiun televisi setempat News4Jax, Asay yang diduga terkait kelompok ekstremis sayap kanan dan memiliki tato swastika menolak tuduhan itu dan mengatakan dia membuat tato itu untuk alasan perlindungan.