Rıskı Ramadhan
22 Desember 2017•Update: 23 Desember 2017
ANKARA
Ghouta Timur yang saat ini berada dalam blokade rezim Bashar al-Assad di Suriah menjadi tempat paling menderita akibat perang saudara.
Selama lima tahun terakhir, setidaknya 400 ribu warga sipil, dimana setengahnya merupakan anak-anak, berjuang menghadapi serangan intensif dari rezim al- Assad dalam kondisi kekurangan obat dan makanan.
Dalam satu bulan terakhir, jumlah bayi yang meninggal karena tidak kuat hidup dalam kondisi di Ghouta Timur dilaporkan semakin meningkat.
Penderitaan masyarakat Ghouta Timur semakin menjadi setelah rezim memperketat blokadenya selama 8 bulan terakhir,
Rezim bahkan juga menargetkan sekolah dan panti-panti asuhan di sana sebagai sasaran serangan.
Ghouta Timur ditetapkan sebagai "zona de-eskalasi" oleh Turki, Rusia, dan Iran melalui perjanjian Astana pada 3-4 Mei lalu. Rusia sebagai penjamin rezim menyatakan gencatan senjata mulai berlaku pada 22 Juli lalu. Namun rezim masih terus melanjutkan serangan melalui udara maupun darat dan semakin memperketat blokade Ghouta Timur.
Hingga bulan April lalu tahun ini, makanan masih bisa dipasok ke Ghouta timur melalui secara ilegal, melalui terowongan tersembunyi. Namun setelah itu, memasok makanan dan obat-obatan ke Ghouta Timur menjadi tidak mungkin karena rezim dan kelompok teroris asing pendukungnya semakin memperketat blokade.
Sejak 14 November, lebih dari 150 warga sipil terbunuh akibat serangan-serangan yang terjadi di sana.

Ghouta Timur kini menjadi kuburan bayi dan anak-anak
Blokade rezim juga menyasar bayi dan anak-anak yang jumlahnya setengah dari 400 ribu jiwa penduduk yang tinggal di Ghouta Timur.
Menurut informasi yang diperoleh reporter Anadolu Agency dari Rumah Sakit Spesialisi Pedesaan Damaskus, sebanyak 527 bayi meninggal dunia sejak tahun 2014.
Jumlah bayi yang meninggal dunia karena kekurangan obat dan makanan tahun di Ghouta Timur terus bertambah. Pada tahun 2014 ada 15 bayi yang tewas, sementara tahun 2017 jumlah anak dan bayi yang tewas mencapai 227 orang, hanya sampai bulan Oktober saja.
Menurut data UNICEF, kematian bayi di Ghouta Timur masih terus bertambah. UNICEF pada tanggal 10 Desember melaporkan, sejumlah 137 anak-anak berusia 7 hingga 17 tahun harus segera dievakuasi guna mendapatkan perawatan medis.
Kepada Anadolu Agency, sejumlah orang tua di Ghouta Timur mengatakan, terkadang anak-anak mereka mengalami kelaparan sepanjang hari dan malam dan terpaksa bertahan dengan makan roti.
Harga makanan yang jumlahnya semakin menipis juga melambung tinggi. Segelas susu dijual seharga 1.000 pound Suriah (SYP) atau sekitar Rp26 ribu, sedangkap stok makanan bayi di Ghouta Timur dilaporkan telah habis.
Satu kilogram beras dijual seharga SYP 2.900 atau sekitar Rp 76 ribu, sementara satu kilogram gula dijual seharga SYP 2.450 atau sekitar Rp 65 ribu
Sementara itu, orang sakit juga terlantar karena rezim menargetkan rumah sakit dan gudang obat serta menghalangi distribusi obat baru.