Rhany Chairunissa Rufinaldo
13 November 2019•Update: 14 November 2019
James Reinl
NEW YORK
Google memperoleh akses ke arsip data pasien di Amerika Serikat berkat kesepakatan, dengan perusahaan kesehatan raksasa negara itu, yang menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan privasi, lansir Wall Street Journal, Selasa.
Melalui skema Project Nightingale yang disepakati dengan Ascension, pengelola 2.600 rumah sakit di seluruh AS, Google mendapatkan akses ke catatan kesehatan, nama dan alamat tanpa perlu memberi tahu pasien.
Dalam sebuah pernyataan, Google mengatakan kesepakatan itu adalah praktik standar di sektor perawatan kesehatan dengan mematuhi peraturan industri soal data pasien dan melibatkan panduan ketat tentang privasi, keamanan dan penggunaan data.
"Berdasarkan pengaturan ini, data Ascension tidak dapat digunakan untuk tujuan lain selain untuk menyediakan layanan yang kami tawarkan berdasarkan perjanjian, dan data pasien tidak dapat dan tidak akan digabungkan dengan data konsumen Google mana pun," kata pernyataan itu.
Di bawah kesepakatan itu, Google dapat mengakses usia pasien, hasil lab, diagnosis dan catatan rawat inap.
Menurut Wall Street Journal, akses data dimulai pada 2018 dan tidak mengharuskan Google untuk memberi tahu pasien atau dokter tentang data yang mereka akses.
Para pendukung kesepakatan itu mengatakan membawa alat-alat intelijen buatan ke rumah sakit akan membantu dokter merawat pasien lebih baik dan menurunkan biaya medis ketika teknologi baru diluncurkan di seluruh sektor perawatan kesehatan.
Para kritikus mengatakan pasien harus memiliki hak untuk memutuskan apa yang akan terjadi pada catatan medis pribadi mereka.
Sebagian lainnya juga khawatir perusahaan teknologi seperti Google memanfaatkan terlalu banyak data dan menggunakannya untuk meningkatkan kekuatan dan keuntungan mereka.