Maria Elisa Hospita
17 Maret 2020•Update: 18 Maret 2020
Beyza Binnur Donmez
ANKARA
Raksasa e-commerce yang berbasis di Amerika Serikat mengumumkan penerimaan 100.000 karyawan baru untuk memenuhi lonjakan permintaan di tengah wabah virus korona.
"Kami membuka 100.000 posisi penuh dan paruh waktu di seluruh penjuru negeri," kata Senior Vice President Dave Clark lewat sebuah pernyataan.
Menurut dia, mengirimkan barang langsung ke pelanggan selama wabah Covid-19 akan mendukung kebijakan pembatasan sosial (social distancing).
"Karena tingginya permintaan, maka kebutuhan tenaga kerja juga meningkat," jelas Clark.
Dia mengatakan bahwa bidang layanan dan jasa banyak yang terdampak akibat krisis ini, sehingga perusahaannya ingin meringankan beban orang-orang terdampak.
Selain membuka lapangan pekerjaan, Amazon juga berinvestasi lebih dari USD350 juta di seluruh AS, Kanada, dan Eropa, untuk meningkatkan upah per jam karyawannya.
"Di AS, kami akan menambahkan USD2 per jam kepada tiap-tiap karyawan hingga bulan depan, GBP2 [USD2,44] per jam di Inggris, dan EUR2 [USD2,23] per jam di banyak negara Uni Eropa," papar dia.
Clark menambahkan bahwa Amazon memprioritaskan kesehatan dan keselamatan jiwa tenaga kerjanya, dan telah mengambil semua tindakan pencegahan yang direkomendasikan oleh para ahli.
Virus korona, atau yang secara resmi dikenal sebagai Covid-19, pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, pada Desember lalu.
Wabah itu kemudian menyebar ke setidaknya 150 negara, sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah itu sebagai pandemi.
Dari 182.500 kasus yang dikonfirmasi, lebih dari 7.000 orang meninggal dunia di seluruh dunia.
Di AS sendiri, total angka kematian akibat wabah Covid-19 telah mencapai 85 jiwa, dengan sebanyak 4.600 kasus dikonfirmasi.