20 Juli 2017•Update: 20 Juli 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dan Menteri Luar Negeri Laos, Saleumxay Kommasith, dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral pada 27 Juli.
Sejumlah isu yang akan dibicarakan dalam pertemuan Joint Council for Bilateral Cooperation (JCBC) ini antara lain kerjasama di bidang pertahanan dan keamanan serta upaya meningkatkan kerjasama ekonomi. Situasi kawasan dan global pun tak luput dari pokok bahasan.
Selain itu, pertemuan ini akan merayakan 60 tahun hubungan bilateral antara kedua negara.
“Size ekonomi Indonesia dan Laos mungkin tidak seimbang karena Laos terkecil, [sedangkan] Indonesia terbesar. Kita tidak lihat dari size ekonomi tapi kontribusi terhadap ASEAN [secara] keseluruhan. Bersama-sama kita kawal ASEAN menjaga stabilitas politik keamanan sehingga ekonomi kawasan terus tumbuh,” kata Direktur Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, pada press briefing di Kementerian Luar Negeri di Jakarta pada Kamis (20/7).
Pertemuan juga akan membahas kerjasama impor potasium untuk Pupuk Kujang yang selama ini dipasok dari Kanada dan Rusia. Sedangkan, kebutuhan produsen pupuk lokal setiap tahun mencapai 70.000 ton potasium. Sekarang Indonesia melakukan uji coba impor potasium dari Laos sebanyak 500 ton.
“Ini ada potensi di Laos yang jaraknya lebih dekat dan bisa hemat 30 persen dan kualitasnya dianggap memadai. Ada potensi ekonomi untuk tingkatkan kerja sama,” kata Denny.
Sejumlah pelatihan diplomatik yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) untuk negara-negara ASEAN turut menjadi agenda.
“Hubungan people-to-people sangat baik dan ada diplomatic training dari Pusdiklat untuk negara sahabat dan dari Laos megirimkan wakilnya untik berlatih. Menteri Luar Negeri Laos akan melihat fasilitas training center Kementerian Luar Negeri untuk tingkatkan kualitas ke depan,” tutupnya.