Maria Elisa Hospita
09 April 2019•Update: 09 April 2019
Omer Koparan, Esref Musa
AZAZ
Kelompok LSM Suriah pada Senin meluncurkan kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang pembantaian massal dengan senjata kimia oleh rezim Bashar al-Assad di Al-Bab, Suriah Utara.
Kelompok LSM, yang dipimpin oleh Asosiasi Media Suriah, menggelar kampanye tersebut di media sosial dalam rangka memperingati tewasnya warga sipil karena gas sarin.
Serangan kimia di Khan Shaykhun pada 2017 telah merenggut 100 nyawa, dan setahun kemudian di Douma, 78 orang juga tewas karena gas sarin.
"Beberapa negara berusaha menutupi-nutupi adanya pembantaian dengan senjata kimia di media dan ranah politik agar Assad tidak diminta bertanggung jawab," ungkap Komandan Tentara Pembebasan Suriah Hamza Barikdar kepada Anadolu Agency.
"Meskipun ada sejumlah laporan dari PBB dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia [OPCW] yang mengecam rezim Assad, namun hingga kini tidak ada proses pengadilan terhadap Assad," tambah dia.
Setelah penyelidikan selama hampir setahun, OPCW menyimpulkan bahwa gas klorin memang digunakan di daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai kelompok pemberontak.
Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis melancarkan serangan rudal sebagai balasan atas serangan itu, menyerang target rezim Suriah, termasuk pusat penelitian di Damaskus dan fasilitas penyimpanan senjata kimia di dekat Homs.
"Rezim Assad tidak boleh menggunakan senjata kimia lagi di Suriah. Kami tidak akan ragu-ragu untuk bertindak tegas jika rezim Assad menggunakan senjata ini lagi di masa depan," kata Asosiasi Media Suriah dalam sebuah pernyataan bersama.
*Dilara Hamit turut melaporkan dari Ankara